Neraca Dagang Terbebani Rupiah dan Impor Migas

Tax Amnesty Usai, Pengusaha Minta Reformasi Pajak Berlanjut
September 19, 2018
Impor Lebih dari USD 75, Wajib Pajak Dikenai Tarif Tambahan 27,5 Persen
September 19, 2018

JAKARTA. Neraca dagang Indonesia pada Agustus 2018 kembali defisit sebesar US$ 1,02 miliar. Pelemahan nilai tukar rupiah dan tingginya harga minyak menjadi penyebab utama defisit neraca dagang. Hingga akhir tahun, impor migas diperkirakan masih menjadi bandul pemberat neraca dagang RI.

Merujuk pada data Badan Pusat Statistik (BPS), pada Agustus 2018, Indonesia mencatatkan nilai ekspor US$ 15,82 miliar. Kendati turun 2,90% dibandingkan dengan bulan sebelumnya, nilai ekspor itu naik 4,15% dibandingkan dengan Agustus 2017.

Pada periode yang sama, Indonesia mencatat nilai impor US$ 16,84 miliar. Meski turun 7,97% dibanding impor Juli 2018, nilai impor Agustus 2018 naik 24,65% dibanding dengan Agustus 2017.

Kepala BPS Suhariyanto menyebutkan, penurunan ekspor batubara berandil besar mengerek defisit neraca dagang. Sebagai gambaran, Juli 2018, ekspor batubara mencapai US$ 2,34 miliar, sementara ekspor Agustus 2018 tercatat US$ 1,96 miliar.

Pada saat bersamaan, nilai impor minyak dan gas (migas) meningkat pesat. Impor migas Agustus mencapai US$ 3,05 miliar, naik 14,5 % dari Juli 2018 dan meningkat 51,43% dibanding Agustus 2017.

Impor minyak mentah tercatat naik paling signifikan mencapai 67,55% menjadi US$ 1,04 miliar dari sebulan sebelumnya. ” Impor migas kali ini merupakan tertinggi dalam beberapa tahun terakhir,” jelas Suhariyanto, saat publikasi kinerja ekspor impor Indonesia, Senin (17/9).

Tingginya impor migas menyebabkan defisit perdagangan migas US$ 1,66 miliar. Jumlah itu juga merupakan tertinggi setidaknya dalam dua tahun terakhir.

Sebagai gambaran, berdasarkan data Bloomberg, rata-rata harga minyak West Texas Intermediate (WTI) pada Agustus 2018 di pasar kontrak mencapai US$ 67,27 per barel. Harga tersebut turun tipis dari Juli US$ 67,89 per barel.

Kendati harga migas turun tipis ketimbang Juli 2018, kurs rupiah Agustus 2018 melemah 1,01% ke posisi Rp 14.559,86 per dollar AS menurut Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor). Bulan sebelumnya, rata-rata rupiah berada di level Rp 14.414,5 per dollar AS.

Momok Rupiah dan Migas

Kenaikan harga minyak dan pelemahan rupiah masih mengancam neraca dagang September. Maklum, Senin (17/9), harga minyak WTI berada di levelĀ  US$ 69,48 per barel, naik 0,78% dari sehari sebelumnya US$ 68,94 per barel. Sedangkan rata-rata rupiah di level 14.849,5 per dollar AS. “Ke depan harga minyak bisa naik lagi karena permintaan menjelang musim dingin selalu meningkat,” kata Satria Sambijantoro Satria, Ekonom Bahana Sekuritas.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, defisit perdagangan migas menjadi biang kerok buruknya defisit neraca perdagangan Agustus. Meski begitu, ia berharap berbagai regulasi pengendalian impor bisa berefe positif terhadap neraca perdagangan September 2018. ” Perluasan B20 juga baru berjalan,” ujar Sri Mulyani.

Mandatori B20 mewajibkan penggunaan campuran bahan bakar nabati (BBN) sebesar 20% untuk solar bagi semua jenis kendaraan diesel. Beleid ini diyakini akan mengurangi impor minyak bumi.

Sumber : Kontan

Leave a Reply

Your email address will not be published.

WhatsApp WA only