Tarif Bea Masuk Impor Keramik China Naik

Insentif Pajak Jaga Pertumbuhan Ekonomi Pasca-Suku Bunga Naik
October 1, 2018
Pemenuhan Pajak Air Bawah Tanah Masih Rendah
October 1, 2018

JAKARTA. Pemerintah resmi mengerek tarif bea masuk untuk keramik asal China melalui Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 119/2018. Bea masuk keramik dari Negeri Tembok Raksasa bertambah 23% di tahun pertama, 21 % di tahun kedua, dan 19% di tahun ketiga, dari sebelumnya hanya 5%.

Elisa Sinaga, Ketua Umum Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki), menyatakan, kebijakan pemerintah itu sudah ditunggu- tunggu pelaku industri di tanah air. Sayang, kenaikan tarif itu tidak berlaku bagi produk keramik dari 125 negara termasuk India. ” Padahal, India saat ini adalah produsen keramik nomor dua di dunia,” katanya, Jumat (28/9).

Walau yang mendominasi keramik impor adalah produk China, kebijakan pemerintah tersebut bisa merangsang produsen keramik impor lainnya untuk memasukkan barangnya ke Indonesia. ” Sebab selama ini, India belum masuk karena salah bersaing dengan China. Tapi ke depan, setelah ada safe guard , bukan tidak mungkin India berpeluang masuk” ungkap Elisa.

Sebelumnya, pelaku usaha keramik berekspektasi, pemberlakuan safe guard lewat pengaturan bea masuk itu berlaku untuk semua negara, tidak hanya China. Impor keramik, menurut Elisa, setiap tahun mengalami kenaikan cukup signifikan. Dan angkanya tumbuh dobel digit.

Belum lagi, Elisa menambahkan, saat ini sudah ada tujuh juta meter persegi (m2) keramik impor yang masuk ke pasar lokal. ” Kalau bisa dibilang, periode 2013 hingga 2017, impor terus naik 22% setiap tahun,’ ujar dia.

Daya saing meningkat

Edy Suyanto, Direktur PT Arwana Citramulia Tbk, mengatakan, secara umum perusahannya mendukung kenaikan bea masuk keramik. ” PMK yang baru ada tambahan 23% plus existing saat ini 5%, totalnya 28% sudah mendekati harapan pelaku industri lokal yang mengharapkan bea masuk 30%,” urainya.

Harapannya, kenaikan bea masuk keramik mampu meningkatkan daya saing pelaku indutri keramik lokal yang selama ini, Edy bilang, dihantam produk impor China. ” Harga mereka (China) sangat murah,” ungkap dia.

Meski demikian, senada dengan Elisa, Edy juga menyayangkan pengecualian bagi 125 negara termasuk India. ” Produk impor keramik dari India ke Indonesia masih relatif kecil dibanding China namun industri juga tengah mewaspadai itu,” katanya.

Yang jelas, dengan kebijakan pemerintah tersebut, Arwana Citramulia bisa lebih leluasa berekspansi. Mereka menyiapkan serangkaian rencana ekspansi, seperti penambahan lini produksi di pabrik Ogan Ilir di 2019 nanti.

“Dan, juga tidak tertutup kemungkinan untuk produk keramik ukuran besar yakni 60cm x 60cm milik kami bakal mengisi permintaan pasar dalam negeri yang selama ini dikuasai produk impor dari China, ” tambah Edy.

Sumber : Kontan

Leave a Reply

Your email address will not be published.

WhatsApp WA only