APBN Italia dan Dolar AS Diprediksi Tekan Pasar Obligasi

Beri Penghargaan ke Pegawai Pajak Terbaik, Ini Pesan Sri Mulyani
October 2, 2018
OJK Jawab Hasil Audit BPK soal Utang Pajak Rp 901 Miliar
October 3, 2018

Jakarta– Pasar surat berharga negara (SBN) diprediksi melemah pada perdagangan hari ini akibat semakin kuatnya nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) di tengah kekhawatiran potensi melemahnya ekonomi Italia akibat APBN yang populis tetapi tidak ekonomis.

Dhian Karyantono, Analis Fixed Income PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, dalam risetnya mengatakan faktor lain yang akan membebani harga surat berharga negara (SBN) hari ini hingga terkoreksi adalah melemahnya pasar obligasi AS yang juga mendongkrak tingkat imbal hasilnya (yield) di pasar sekunder.

Pergerakan harga dan yield saling bertolak belakang di pasar sekunder. Yield menjadi acuan transaksi dan indikator pasar efek utang daripada harga karena mencerminkan kupon, tenor, dan risiko dalam satu angka.

“Namun demikian, proyeksi melemahnya harga SBN tersebut diperkirakan dibatasi oleh momentum window dressing dan sentimen positif dari rendahnya inflasi September 2018 [yang diumumkan kemarin],” ujar Dhian.

APBN Italia menjadi perhatian investor global karena secara ekonomis akan membebani perekonomian negara tersebut dan mengancam stabilitas negara-negara kawasan Eropa.

Kekhawatiran tersebut dapat memancing investor menghindari risiko dan memburu dolar AS sebagai salah satu instrumen investasi global yang dianggap lebih aman, sehingga mengangkat nilai tukarnya di pasar.

Dalam riset terpisah, Associate Director PT Kiwoom Sekuritas Indonesia Maximilianus Nico Demus memprediksi pasar obligasi rupiah pemerintah pagi ini akan menguat terbatas.

“Penguatan ini juga merupakan kesempatan bagi pasar obligasi untuk membuat satu tren secara jangka pendek, yang dapat mengubah tren penurunan yang sudah terbentuk sejak dari dulu menjadi tren penguatan.”

Dia mengatakan jika SBN acuan 10 tahun yaitu FR0064 dapat menguat dan membuat yield-nya turun ke bawah 8%, maka penguatan akan berlanjut dan menekan yield-nya di bawah 7,8%.

Dia mengingatkan pelaku pasar yang ingin membeli saat ini agar berhati-hati karena area penguatan sudah terbatas.

“Kami merekomendasikan beli hari ini dengan volume kecil, tetap hati-hati dengan profit taking yang mungkin akan terjadi [karena penguatan sudah terjadi cukup besar].”

Dia juga menyarankan investor dan trader SBN untuk fokus pada lelang hari ini apabila hari ini penguatan pasar menjadi terbatas. Hari ini, pemerintah berniat menerbitkan surat berharga syariah negara (SBSN/sukuk negara) melalui lelang rutin dengan target Rp 4 triliun.

Berikut beberapa berita dan informasi terkait pasar fixed income yang dirangkum Kiwoom Sekuritas:

  • US Construction Spending MoM turun dari sebelumnya 0,2% menjadi 0,1%.
  • US ISM Manufacturing turun dari sebelumnya 61,3 menjadi 59,8.
  • Indonesia Nikkei Indonesia PMI Mfg turun dari sebelumnya 51,9 menjadi 50,7.
  • Indonesia CPI YoY turun dari sebelumnya 3,2% menjadi 2,88%. Core YoY turun dari sebelumnya 2,90% menjadi 2,82%.
  • Arab Saudi, Qatar, Uni Emirat Arab, Bahrain, dan Kuwait akan memenuhi syarat untuk dimasukkan dalam Indeks Obligasi Pasar Berkembang JP Morgan yang dimulai pada Januari nanti. Perubahan tersebut mengakibatkan bobot risiko bagi Asia turun menjadi 18% dari sebelumnya 20%. Sementara Amerika Latin akan turun menjadi 33% dari sebelumnya 37%.
  • Indonesia akan menyerap dana Rp 142,73 triliun pada kuartal ke empat, salah satunya dari penerbitan SBN.

Sumber : CNBC Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published.

WhatsApp WA only