Ferrari Terpaksa Sunat Profit Demi Siasati Kenaikan Pajak Impor

Kemenhub Terus Sosialisasikan Kebijakan ODOL Melalui Berbagai Forum Diskusi
October 5, 2018
Bencana Alam Tidak Signifikan Pengaruhi Rupiah Atas Dolar AS
October 5, 2018

TANGERANG – Ferrari memilih mengurangi keuntungan mereka secara cukup signifikan agar tetap dapat berbisnis di tengah kebijakan pembatasan impor.

Seperti diberitakan sebelumnya, pemerintah mengurangi impor 1.147 barang, termasuk mobil. Ini dilakukan sebagai upaya memulihkan neraca perdagangan sekaligus nilai tukar rupiah terhadap dollar AS yang terus melemah sejak awal tahun.

Untuk mereduksi impor mobil, pemerintah menaikkan Pajak Penghasilan (PPh) 22 dari 7,5 persen menjadi 10 persen plus menyamaratakan bea masuk menjadi 50 persen. Kebijakan ini diakui oleh Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia paling mencederai bisnis mobil-mobil premium asal Eropa.

Arie Christopher, Chief Executive Ferrari Jakarta, menjelaskan bahwa kebijakan ini sangat mempengaruhi harga jual mereka di Indonesia. Namun, kenaikan pajak impor terpaksa mereka serap karena daya beli konsumen mobil-mobil supercar pun belum pulih.

“Pasti margin (keuntungan) kami akan turun banyak. Kami akan banyak serap kenaikan pajak. Tapi kalau bicara angka pasti kenaikan harga berapa, saya enggak bisa sebut di sini,” aku Arie ketika datang ke pameran mobil bekas Hot Deals Carnival Mobil123.com pada akhir pekan lalu di Gading Serpong, Tangerang.

Dampak kenaikan pajak impor sendiri sudah terasa ke bisnis Ferrari. Banyak konsumen mereka yang meminta kepastian kepada distributor resmi.

“Para konsumen ingin mendapatkan kepastian. Misalnya soal kami masih bisa impor atau enggak, akan terus berbisnis atau enggak. Seperti itu lah kurang-lebih,” Arie.

Sayang, dia tidak bersedia menyebut volume penjualan mereka sejauh ini maupun penurunan yang dialami akibat pembatasan impor. Ia hanya menjelaskan tidak ada rencana pengenalan produk yang mundur karena supercar anyar selanjutnya untuk pasar Indonesia baru bakal mengaspal tahun depan.

Kurang Tepat
Ferrari menilai kebijakan pembatasan impor yang benar-benar memukul pabrikan mobil premium kurang tepat. Pasalnya, walaupun seluruh model mereka masih diimpor, volumenya sangat kecil jika dibandingkan besar pasar otomotif nasional yang melebihi 1 juta unit per tahun.

“Segmen volume mobil supercar itu, kan, kecil banget. Mungkin enggak sampai satu persen pasar. Jadi sebetulnya anggapan supercar menghabiskan devisa negara sih menurut saya enggak tepat,” ucap Arie.

Karena itu, dia berharap pemerintah dapat meninjau ulang kebijakan tersebut.

Sumber : Mobil123.com

Leave a Reply

Your email address will not be published.

WhatsApp WA only