September, Defisit APBN 1,35 Persen

Pelemahan Rupiah Dongkrak Penerimaan BI
October 18, 2018
Rincian 8 Perusahaan yang Nikmati Bebas Pajak Sri Mulyani
October 18, 2018

Pemerintah optimistis outlook defisit anggaran hingga akhir tahun lebih baik dari periode sebelumnya dengan melihat tren penerimaan dan belanja sama-sama baik, serta penerimaan yang sangat kuat.

Jakarta – Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mengungkapkan realisasi defisit anggaran dalam APBN hingga akhir September 2018 mencapai 200,2 triliun rupiah atau 1,35 persen terhadap produk domestik bruto (PDB). Angka tersebut turun 72 triliun rupiah dibandingkan periode sama tahun lalu.

Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, mengungkapkan realisasi defisit anggaran yang mencapai 1,35 persen terhadap PDB ini juga lebih rendah dari periode sama tahun lalu sebesar dua persen terhadap PDB.

Realisasi defisit anggaran ini berasal dari pendapatan negara sebesar 1.312,3 triliun rupiah atau 69,3 persen dari target serta belanja negara 1.512,6 triliun rupiah atau 68,1 persen dari pagu.

Pendapatan negara tersebut mencakup penerimaan perpajakan 1.024,5 triliun rupiah atau 63,3 persen dari target, penerimaan negara bukan pajak 281,4 triliun rupiah atau 102,2 persen dari target dan hibah 6,4 triliun rupiah atau 538,6 persen dari target.

Penerimaan perpajakan tersebut berasal dari penerimaan pajak termasuk PPh migas sebesar 900,9 triliun rupiah atau 63,3 persen dari target dan penerimaan kepabeanan dan cukai 123,6 triliun rupiah atau 63,7 persen dari target.

“Kalau dibandingkan tahun lalu penerimaan perpajakan yang hanya mencapai 879 triliun rupiah, berarti pada tahun ini ada pertumbuhan 16,5 persen,” kata Menkeu dalam jumpa pers perkembangan APBN di Jakarta, Rabu (17/10).Sedangkan realisasi belanja negara terdiri atas belanja pemerintah pusat sebesar 938,8 triliun rupiah atau 64,5 persen dari pagu serta transfer ke daerah dan dana desa 573,8 triliun rupiah atau 74,9 persen dari pagu.

Belanja pemerintah pusat mencakup belanja Kementerian Lembaga yang sudah mencapai 511,5 triliun rupiah atau 60,4 persen dari pagu serta belanja non Kementerian Lembaga sebesar 427,3 triliun rupiah atau 70,4 persen dari pagu.

“Kita lihat dengan tren penerimaan dan belanja yang sama-sama baik, serta penerimaan yang sangat kuat, outlook defisit nanti pada akhir tahun sangat menggembirakan,” ujar Sri Mulyani.

Dalam kesempatan ini, pemerintah juga mencatat neraca keseimbangan primer mencapai defisit 2,4 triliun rupiah atau lebih baik dibandingkan periode sama 2017 sebesar defisit 99,2 triliun rupiah.

Penerimaan Pajak

Sementara itu, Direktur Jenderal Pajak Kementerian Keuangan Robert Pakpahan memperkirakan penerimaan pajak hingga akhir Desember 2018 bisa tumbuh 17,4 persen dibandingkan periode sama tahun sebelumnya.

“Penerimaan hingga akhir tahun 2018 yang dikelola oleh Direktorat Jenderal Pajak bisa tumbuh 17,4 persen,” katanya.

Robert mengatakan optimisme itu dipicu oleh penerimaan pajak termasuk pajak penghasilan (PPh) migas dari bulan ke bulan yang terus membaik dan hingga pada akhir September 2018 tercatat mencapai 900,9 triliun rupiah atau 63,3 persen dari target APBN.

“Mudah-mudahan pertumbuhan penerimaan ini bisa di-maintain pada Oktober, November dan Desember,” kata Robert.

 

Sumber : Koran Jakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published.

WhatsApp WA only