Sapi Dominasi Investasi Peternakan, Nilainya Tak Terduga

Kanwil DJP Jateng II Raup Rp 534 M dari UMKM
November 14, 2018
Kata Sri Mulyani Soal Nilai Tukar Rupiah Kembali Melemah
November 14, 2018

JAKARTA. Investasi di sektor peternakan dari tahun ke tahun menunjukkan tren peningkatan. Investor asing maupun nasional lebih banyak tertarik menanamkan modalnya di peternakan sapi dan unggas.

“Hal itu tercermin dari nilai akumulasi investasi pada 2016, 2017, dan tahun ini,” ujar Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kementerian Pertanian (Kementan) I Ketut Diarmita di Jakarta.

Dia mengungkapkan, investasi penanaman modal dalam negeri (PMDN) peternakan pada 2017 mencapai Rp842,9 miliar. Nilai investasi tersebut lebih tinggi sekitar 80,9% dibandingkan dengan 2016 sebesar Rp466,0 miliar. Sementara nilai investasi penanaman modal asing (PMA) peternakan 2016 mencapai USD48,9 juta.

Tahun lalu, investasi asing di sektor peternakanmencapai USD159,7 juta atau melonjak sekitar 226,6%. Periode 2015-2018 sampai dengan kuartal II, komoditas unggas merupakan komoditas paling menarik bagi investor, baik PMA maupun PMDN.

Realisasi investasi PMA selama periode itu untuk komoditas unggas sebesar 82,14% dan PDMN sebesar 86,78%. Pada 2018 hingga kuartal II, investasi PMA subsektor peternakan mencapai USD54,3 ribu dan PMDN Rp405,1 juta.

Sama seperti dengan tahun-tahun sebelumnya peningkatan investasi PMDN di subsektor peternakan 2018 masih didominasi komoditas unggas 85,1% dan komoditas sapi 14,9%.

“Sedangkan untuk investasi PMA kontribusi komoditas unggas sebesar 46,9%, komoditas sapi 50,1%, komoditas lain serta jasa peternakan lainnya 3,0%,” kata I Ketut Diarmita.

Menurut Ketut, kebijakan pemerintah yang menjadi pendorong peningkatan investasi sektor peternakan diantaranya pemberian fasilitasi pengurangan pajak penghasilan (tax allowance) bagi usaha pembibitan sapi potong dan budi daya penggemukan sapi lokal berdasarkan PP Nomor 18/2015.

“Adanya mitigasi risiko melalui Asuransi Usaha Ternak Sapi dan Kerbau (AUTS/K) dengan fasilitasi bantuan premi untuk 120.000 ekor per tahun sejak 2016. Pemerintah juga memfasilitasi subsidi bunga Kredit Usaha rakyat (KUR) dengan bunga KUR sebesar 7% dan fasilitasi peningkatan akses pembiayaan Program Kemitraan dan Bina Lingkungan BUMN,” kata dia.

Data Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Badan Pusat Statistik (BPS) pada Agustus lalu menyebutkan, terdapat sekitar 3,84 juta tenaga kerja yang bekerja di subsektor peternakan.

Subsektor peternakan berkontribusi menyerap 11,51% tenaga kerja sektor pertanian. Sementara terhadap total tenaga kerja nasional, subsektor peternakan berkontribusi sebesar 3,17%.

Jumlah tenaga kerja subsektor peternakan tahun 2018 mencapai 4,83 juta orang naik 27,3% dari tahun 2015.

“Pertumbuhan ternak, produksi pakan, dan obat-obatan menjadi kunci sangat penting untuk peningkatan produksi karena permintaan untuk protein hewani akan terus meningkat seiring dengan peningkatan PDB per kapita,” katanya.

Sumber : Okezone

Leave a Reply

Your email address will not be published.

WhatsApp WA only