Sulit Nian kendaliakan Nafsu Impor

Ekspor Pertanian Masih Gempor
November 16, 2018
Dongkrak Keyakinan Investor, Pemerintah Rilis Paket Kebijakan Ekonomi XVI
November 16, 2018

JAKARTA. Upaya pemerintah mengendalikan impor dan menggenjot ekspor belum membuahkan hasil. Setelah mencetak surplus September 2018, neraca dagang Oktober malah jebol dan defisit US$ 1,82 miliar. Ini adalah posisi defisit terdalam kedua tahun ini.

Neraca migas menyumbang defisit US$ 1,42 miliar. Sementara neraca non-migas menyumbang US$ 393,2 juta.

Dorongan defisit berasal dari berbagai faktor. Salah satunya tren peningkatan impor menjelang akhir tahun.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat impor pada Oktober 2018 melesat 23,66% dari setahun sebelumnya atau year on year (yoy) menjadi US$ 17,62 miliar. Impor juga naik 20,60% dari sebulan sebelumnya.

Jika merujuk data, impor memang cenderung naik setiap Oktober. Oktober 2017, impor naik 23,33% yoy, naik 11,04% dari sebulan sebelumnya. Bahkan, tahun 2016 saat impor dalam tren turun, impor di Oktober naik 3,27%.

Pengendalian impor juga tertahan pelemahan rupiah. Pada Oktober, kurs rupiah rata-rata Rp 15.178,87 per dollar AS, turun 2,08% dari performa di September.

Padahal, merujuk data BPS, volume impor Oktober hanya naik 7,99% yoy menjadi 15,88 juta ton. ” Kami berharap, ada kebijakan tambahan agar defisit neraca dagang dan jasa lebih baik,” kata Suhariyanto, Kepala BPS, Kamis (15/11).

Dirjen Bea dan Cukai Heru Pambudi menilai, rata-rata impor harian turun pada 13 September – 11 November 2018 menjadi US$ 18,3 juta. Nilai ini turun dibanding 1 Januari-12 September 2018 US$ 31,1 juta. Penurunan terjadi pasca kenaikan tarif PPh impor pasal 22.

Bertahun-tahun upaya menekan defisit kembar neraca dagang dan transaksi berjalan belum mempan. Demi mempersempit defisit transaksi berjalan senilai US$ 8,8 miliar atau setara 3,37% dari PDB, Bank Indonesia (BI) juga sudah all out menggunakan aneka instrumennya. Kemarin, BI kembali menaikkan bunga acuan atau BI 7-Day Reverse Repo Rate 0,25% menjadi 6%.

Wakil Ketua Kadin bidang Hubungan Internasional Shinta Widjaja Kamdani menilai, perluasan biodiesel 20% (B20) belum efektif menurunkan defisit migas. ” Sudah saatnya pemerintah mempertimbangkan lagi pengurangan subsidi BBM. Bukan hal mudah tapi hasilnya signifikan, kata dia.

Menko Perekonomian Darmin Nasution menyatakan, pemerintah akan mengeluarkan kebijakan baru untuk menyehatkan neaca dagang. Tunggu saja besok,” janji Darmin.

Sumber : Kontan

Leave a Reply

Your email address will not be published.

WhatsApp WA only