Perbaiki neraca perdagangan, ekspor tekstil hingga otomotif digenjot

Waspada Defisit Neraca Dagang Masih ‘Menghantui’
January 17, 2019
Peritel Kembali Tagih Insentif Pengembalian Pajak Pertambahan Nilai
January 17, 2019

JAKARTA, Pemerintah tengah memilah sejumlah komoditas yang diharapkan bisa membantu menggenjot ekspor di tahun ini dan memperbaiki neraca perdagangan yang tahun lalu mencatatkan defisit hingga US$8,57 miliar.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan, defisit neraca perdagangan pada tahun lalu terjadi karena kinerja ekspor tak mampu lagi menutup derasnya impor. Ini berbeda dari tahun sebelumnya, kinerja ekspor yang cemerlang masih mampu menutupi kenaikan impor sehingga neraca perdagangan masih surplus US$11,84 miliar. 

“Kami identifikasi lagi, cari jalan, ini sedang kami tata. Khususnya nonmigas, kami juga identifikasi hambatannya dan komoditas yang mau diprioritaskan,” ujar Darmin di kantornya, Selasa (15/1/2019). 

Sejauh ini, menurut Darmin, pemerintah melihat peningkatan ekspor bisa digenjot melalui barang-barang tekstil, alas kaki, elektronik, produk kimia, produk otomotif, hingga makanan dan minuman. 

Sementara ekspor komoditas berorientasi sumber daya alam diperkirakan masih akan menghadapi tantangan lantaran harga sangat bergantung pada kondisi ekonomi dan pasar global. 

Selain menyisir komoditas yang bisa diandalkan, pemerintah juga akan mengidentifikasi lagi faktor-faktor yang mempengaruhi ekspor, misalnya tarif kelogistikan dan insentif bagi industri.

“Dari aspek logistik, bukan hanya tarif angkutan dan pergudangan, tapi juga peralihan ke digital. Jadi harus dikombinasi dengan infrastruktur digital agar logistik berdaya saing,” terangnya. 

Selain itu, akses pasar juga akan diperluas melalui perjanjian dagang dengan negara-negara lain. Darmin menyebut, salah satu negara pasar ekspor yang tengah dilirik adalah Afrika Selatan. 

Lihat juga: Pelemahan Ekspor dan Impor China Tekan Harga Minyak

“Tapi mencari pasar baru ini tidak bisa cepat, idealnya ada primary meeting dan lainnya. Kami perlu waktu menyangkut prosedural ekspor dan lainnya,” jelasnya. 

Di sisi lain, ia memastikan pembatasan impor akan tetap berjalan. Caranya, dengan meneruskan kebijakan kenaikan tarif Pajak Penghasilan (PPh) bagi 1.147 barang impor dan perluasan mandatori biodiesel 20 persen (B20). 

Kendati menyiapkan langkah, Darmin belum bisa memperkirakan kapan neraca perdagangan akan kembali surplus,. 

Ia pun berkilah neraca perdagangan yang defisit merupakan pertanda bahwa pertumbuhan ekonomi tetap melaju positif. Hal ini tercermin dari komponen penyumbang pertumbuhan berupa ekspor yang masih tumbuh sekitar 6,65 persen pada 2018 dibandingkan 2017.

Selain itu, impor juga tumbuh mencapai 20,15 persen dari tahun sebelumnya. “Meski defisit perdagangan besar justru di satu pihak itu karena ekonomi berjalan. Kalau tidak jalan, ya impornya tidak naik,” ungkapnya. 

Darmin menjelaskan pertumbuhan impor yang tinggi mengonfirmasi laju ekonomi karena barang-barang impor sejatinya digunakan untuk keperluan industri dan pembangunan infrastruktur yang menjadi modal bagi ekonomi ke depan. Untuk itu, realisasi impor yang tinggi saat ini dipercaya tetap memberi dampak positif kepada perekonomian Tanah Air. 

“Mau tidak mau impor tetap tumbuh dengan cepat karena kami perlu barang-barang itu. Ini karena kami tidak menghasilan barang itu selama ini,” tuturnya. 

Pemerintah sebelumnya memperkirakan pertumbuhan ekonomi sepanjang tahun lalu tumbuh 5,15 persen, sementara tingkat inflasi yang terjaga rendah di kisaran 3,13 persen.

Sumber : Kabarbisnis.com

Leave a Reply

Your email address will not be published.

WhatsApp WA only