Ekonomi China Tahun 2019 Akan Melambat

Direktorat Jenderal Pajak: Tidak ada aturan khusus untuk influencer atau Selebgram
January 17, 2019
Mulai Februari, Target Implementasi Kebijakan B20 Bisa 95% – 96% dari Target
January 18, 2019

BEIJING. Ekonomi China diprediksikan terus melambat pada tahun 2019. Melemahnya permintaan domestik dan perang dagang dengan Amerika Serikat (AS) yang menghantam performa ekspor jadi penyebabnya.

Suvei Reuters  terhadap 85 ekonom dunia menyebutkan, pertumbuhan China akan melambat ke level 6,3%. Proyeksi itu merupakan yang terendah dalam 29 tahun terakhir. Sebelumnya China menargetkan pertumbuhan pada tahun 2019 mencapai 6,6%.

Sejatinya, China memulai tahun 2018 dengan cukup optimistis. Pada triwulan I- 2018 pertumbuhan ekonomi China mencapai 6,8%. Namun performa itu terus merosot hingga pada triwulan IV-2018. Ekonimi diprediksi tumbuh hanya 6,4%.

Sementara secara resmi, pertumbuhan triwulan IV-2018 dan sepanjang tahun lalu akan diumumkan pada 21 Januari 2019 mulai terjadi akibat langkah melonggarkan pinjaman berisiko, yang di sisi lain turut meningkatkan biaya, dan membuat perusahaan-perusahaan kecil kesulitan pendanaan.

Pada saat yang sama ketegangan dengan AS turut menciptakan perang tarif terhadap kedua negara. Akibatnya, permintaan barang-barang asal China secara global seturut melemah. “ Perlambatan ekonomi China telah terjadi secara signifikan,” kata Kenneth Rogoff, Profesor Ekonomi Uiniversitas Harvard, mengutip Reuters, kamis (17/1).

Perundingan pedagangan dengan Amerika pun dinilai tak akan berpengaruh signifikan mendongkrak kinerja ekonomi China tahun ini. “ Menghindari perang tarif lebih lanjut, memang hanya membat China sedikit lebih kuat. Sementara tekanan soal teknologi dan keamanan nasional akan tetap tinggi,” kata seorang analis dari Capital Economics.

Pelonggaran berlanjut

Pertumbuhan investasi China memang mulai beranjak sedikit akibat proyek infrastruktur, meski tak jauh dari rekor investasi terendahnya. Sementara pertumbuhan penjualan ritel manjadi yang terendah sejak 2003 dan kinerja sektor properti pun terlihat goyah.

Minimnya ekspansi industri ditambah melesunya konsumsi masyarakat turut pula menekan laba margin perusahaan di China. Kondisi tersebut membuat investasi baru lesu dan risiko PHK menjadi lebih tinggi.

Terlebih lesunya aktivitas pabrik memicu kekhawatiran ekonomi China akan kian terperosok. Hingga akhir tahun 2019, analis memperkirakan masih ada pemotongan ketentuan cadangan perbankan hingga 150 basis poin (bps) oleh Bank Sentral China.

Dalam beberapa bulan terakhir, bank sentral telahmelonggarkan ketentuan cadangan perbankan bisa lebih banyak menyediakanpinjaman, khususnya untuk perusahaan kecil dan swasta. Analis menilai, saat iniseharusnya stimulus melalui sektor riil juga sudah harus dijalankan hinggaakhir semester I 2019.

Sumber : Kontan

Leave a Reply

Your email address will not be published.

WhatsApp WA only