Silicon Valley menjadi tempat lahirnya ide-ide besar dan menciptakan nilai miliaran dolar. Para raja teknologi kini dibuat gelisah oleh sebuah wacana baru yang datang bukan dari laboratorium inovasi. Bukan soal kecerdasan buatan, bukan pula tentang perang cip atau dominasi platform digital tapi rencana pengenaan pajak khusus untuk para miliarder di California.
GAGASANNYA terdengar sederhana, negara bagian ingin mengutip pajak satu kali sebesar 1% dari kekayaan para miliarder. Sasarannya bukan gaji, melainkan seluruh aset mulai dari saham, karya seni, bisnis, hingga kekayaan intelektual. Nantinya, dana tersebut akan dipakai untuk menambal bolongnya pendanaan layanan kesehatan bagi warga miskin yang terpangkas setelah kebijakan federal era Donald Trump.
Ide itu langsung bikin geger di negara bagian yang menjadi rumah bagi ratusan orang superkaya. California memang unik. Ia adalah mesin ekonomi raksasa, dengan anggaran hampir US$ 350 miliar per tahun. Tapi hampir separuh penerimaan pajaknya justru ditopang oleh 1% penduduk terkaya. Dengan kata lain, jika kelompok kecil ini terganggu dan pergi, dampaknya bisa terasa ke seluruh sendi keuangan negara bagian.
Di dunia maya, perang kata-kata pun pecah. Para pemimpin teknologi bicara tentang Silicon Valley yang bisa kosong jika para pendirinya angkat kaki. Kini, uang sungguhan ikut mengalir ke arena politik. Peter Thiel pendiri PayPal, menyumbang US$ 3 juta untuk komite yang menentang pungutan pajak ini. Padahal, belum tentu juga usulan ini sampai ke bilik suara. Masih dibutuhkan lebih dari 870.000 tanda tangan agar bisa masuk ke agenda pemungutan suara.
Meski hanya menyasar segelintir orang dari 39 juta penduduk California, taruhannya luar biasa besar. Pajak ini akan berlaku surut bagi para miliarder yang tercatat tinggal di California per 1 Januari. Masalahnya, banyak dari mereka punya rumah di berbagai negara bagian. Menentukan siapa benar-benar warga California bisa berubah menjadi drama hukum tersendiri.
“Ini seperti bermain api,” kata Aaron Levie, CEO Box, perusahaan teknologi Silicon Valley. Ia bukan miliarder, tapi cukup dekat dengan dunia mereka untuk tahu risikonya. Menurutnya, pajak ini bisa membuat para pendiri startup berpikir dua kali sebelum membangun bisnis di California.
Bahkan tokoh teknologi yang cenderung berpandangan liberal, kata Levie, bisa menganggap kebijakan ini tidak masuk akal dari sisi ekonomi, meski setuju dengan niat mulianya. Di tengah pusaran ini berdiri Gavin Newsom, Gubernur California justru menentang keras pajak kekayaan di tingkat negara bagian. Bagi Newsom yang memimpin ekonomi terbesar keempat di dunia, kebijakan semacam ini bisa menjadi bumerang, membuat California kalah bersaing dengan negara bagian lain.
Pertanyaannya dapat terbilang sederhana, tapi jawabannya bisa menentukan masa depan, apakah California berani mengambil risiko memeras lebih banyak dari yang paling kaya, atau justru harus bersiap kehilangan mereka?
Sumber : Harian Kontan Senin 19 Januari 2026 hal 16
WA only
Leave a Reply