Purbaya Kerek Tax Rasio

MENTERI Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menargetkan rasio 2026. Target ini seiring membaiknya ekonomi nasional setelah kinerja penerimaan pajak 2025 meleset dari target pajak meningkat signifikan pada

Perlambatan ekonomi sepanjang 2025 menekan tax ratio kesekitar 9% dari PDB. Realisasi penerimaan pajak hanya mencapai Rp 1.917,6 triliun atau 87,6% dari target APBN 2025 sebesar Rp 2.189,3 triliun, turun 0,7% dibandingkan 2024.

Dengan ekonomi yang membaik, penerimaan pajak dan bea çukai harus meningkat,” ujar Purbaya, Jumat (6/2/2026)

Pemerintah menargetkan tax ratio naik ke kisaran 11%-12% dari sekitar 9% saat ini. Target tersebut menjadi tantangan utama otoritas pajak.

Purbaya menegaskan, alasan perlambatan ekonomi tak lagi dapat digunakan jika kinerja pajak tak membaik saat ekonomi pulih. Meski tax ratio turun dari 10,08% pada 2024, ia optimistis perbaikan internal dan penguatan pengawasan dapat mendorong penerimaan pada 2026. Nurtiandriyani Simamora

Jumlah Kelas Menengah Turun

MANDIRI Institute mencatat jumlah kelas menengah Indonesia kembali menurun pada 2025, bahkan lebih dalam dari 2024. Ini seiring melemahnya daya beli dan perlambatan konsumsi.

Jumlah kelas menengah turun dari 47,9 juta orang pada 2024 menjadi 46,7 juta orang pada 2025. “Penurunan ini lebih besar dibandingkan 2024 yang hanya 0,4 juta orang,” tulis riset Mandiri Institute, dikutip Minggu (8/2).

Sebaliknya, kelompok aspiring middle class meningkat signifikan dari 137,5 juta menjadi 142 juta orang, setara 50,4% dari penduduk. Kelompok rentan naik tipis menjadi 67,9 juta orang, sementara jumlah penduduk miskin turun menjadi 23,9 juta orang Adapun kelompok kelas atas tetap kecil, sekitar 1,2 juta orang atau 0,4% populasi.

Tekanan kelas menengah tercermin dari pertumbuhan konsumsi per kapita yang hanya 4,1% pada 2025, terendah dibanding kelompok lain dan di bawah ratarata nasional 4,6%. Sebagai perbandingan, konsumsi kelompok miskin tumbuh 4,7% dan aspiring middle class naik 4,8%

Emiten CPO Masih Atraktif

KINERJA emiten sawit pada 2026 dinilai masih prospektif meskidibayangi sentimen negatif jangka pendek, terutama penundaan implementasi biodiesel B50 dan kenaikan pungutan ekspor CPo menjadi 12,5%.

Kebijakan tersebut berpotensi menekan margin dan menahan tambahan permintaan domestik, namun dampaknya dinilai terbatas karena program biodiesel B40 tetap berjalan.

Analis menilai B40 masih mampu menjaga harga jual rata-rata emiten sawit, ditopang konsumsi domestik yang berpeluang naik jelang Ramadan dan Idulfitri. “Produksi sawit nasional yang diprediksi tumbuh 1% juga dapat menjaga harga CPO global tetap stabil,” kata Co-Founder AP Trading Insight Singapore, Kiswoyo Adi Joe, Jumat (6/2).

Dari sisi valuasi, saham emiten CPO secara umum masih relatif undervalue, meski investor perlu mencermati arah kebijakan biodiesel, pajak ekspor, harga CPo global, serta isu EsG.

Sumber : Harian Kontan


Posted

in

,

by

Tags:

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp WA only