JAKARTA. Pemerintah menegaskan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tetap mampu berperan sebagai peredam gejolak (shock absorber) di tengah ketidakpastian global.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan, kinerja fiskal pada kuartal I-2026 menunjukkan kombinasi antara penerimaan yang kuat dan belanja yang dipercepat guna menopang pertumbuhan ekonomi.
“Di tengah gejolak global yang terus berlangsung, APBN triwulan I-2026 mampu berfungsi sebagai shock absorber sekaligus mendukung agenda pembangunan dengan risiko yang tetap terkendali,” ujar Purbaya dalam rapat bersama Komisi XI DPR RI, Senin (6/4/2026).
Dari sisi penerimaan, pajak mencatatkan pertumbuhan signifikan sebesar 20,7% secara tahunan atau year on year (yoy). Secara keseluruhan, pendapatan negara mencapai Rp 574,9 triliun atau tumbuh 10,5% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Sementara itu, belanja negara melonjak lebih tinggi, yakni 31,4% yoy menjadi Rp 815,0 triliun. Angka ini jauh melampaui pertumbuhan belanja pada kuartaI I-2025 yang hanya sebesar 1,4%.
Purbaya menjelaskan, lonjakan belanja tersebut merupakan strategi yang sengaja dirancang pemerintah agar penyerapan anggaran lebih merata sepanjang tahun. Dengan demikian, dampak ekonomi dari belanja negara dapat dirasakan lebih konsisten.
“Kami ingin sekali belanjanya bisa dibelanjakan merata atau hampir merata sepanjang tahun sehingga dampak ekonominya lebih signifikan dirasakan sepanjang tahun,” katanya.
Strategi percepatan ini tercermin dari tingkat penyerapan belanja pada kuartal I-2026 yang mencapai 21,2% dari total APBN, lebih tinggi dibandingkan rata-rata historis sekitar 17% pada periode yang sama.
Konsekuensinya, APBN mencatat defisit sebesar Rp 240,1 triliun atau setara 0,93% terhadap produk domestik bruto (PDB). Namun, Purbaya menegaskan bahwa kondisi tersebut merupakan hal yang normal karena APBN memang dirancang dalam posisi defisit.
Meski demikian, pemerintah tetap memantau secara ketat dinamika pendapatan dan belanja sepanjang tahun guna menjaga kesinambungan fiskal.
“Tapi yang jelas kami monitor terus selama setahun akan seperti apa pendapatannya dan belanjanya seperti apa. Jadi kami amat berhati-hati dalam mempertimbangkan hal ini,” katanya.
Sumber : kontan.co.id

WA only
Leave a Reply