Sejumlah pekerja kantor bergabung dengan pengunjuk rasa pro-demokrasi saat terjadi aksi di Hong Kong, Selasa (12/11/2019). Aksi menolak usulan UU Ekstradisi diwarnai kericuhan di Hong Kong yang terjadi sejak Juni lalu kini makin meluas dengan desakan pengusutan kebrutalan polisi hingga hak untuk memilih pemimpin sendiri.
HONG KONG, – Penjualan perusahaan ritel fashion asal Italia Salvator Ferragamo di Hong Kong merosot hingga 45 persen di kuartal III 2019.
Hal tersebut diakibatkan oleh aksi protes anti Beijing yang dilakukan oleh masyarakat Hong Kong selama berbulan-bulan belakangan ini. Aksi tersebut telah membuat konsumsi domestik dan turis menjadi turun tajam.
Seperti dikutip dari Bloomberg, Rabu (13/11/2019) merosotnya penjualan dari perusahaan ritel barang mewah tersebut melebihi rival mereka seperti induk dari Louis Vuitton dan Givenchy (LVMH), Kering (pemilik merek Gucci), yang masing-masing mengalami penurunan penjualan sebesar 25 persen dan 35 persen.
Meski penjualan Ferragamo merosot tajam di Hong Kong, tersebut mengalami peningkatan penjualan di China sebesar 15 persen.
Adanya pemotongan pajak pertambahan nilai telah mendorong konsumsi barang-barang mewah di China. Konsumen China memiliki kecenderungan untuk berbelanja di dalam negeri ketimbang melakukan wisata belanja ke Hong Kong dan wilayah lain.
Aksi massa yang berlangsung begitu lama telah meningkatkan kekhawatiran mengenai masa depan Hong Kong sebagai salah satu negara tujuan belanja di dunia.
Analis dari Jefferies, Flavio Cereda mengatakan, masa depan dari kota tersebut sebagai pusat barang mewah tinggal menghitung hari. Perusahaan-perusahaan fashion ternama pun mulai meninjau ulang keberadaan mereka di Hong Kong.
Prada, sebagai salah satu merek fashion ternama, telah berencana untuk menutup toko mereka di ong Jong di Causeway Bay setelah masa sewa mereka habis tahun depan.
Meski demikian masih banyak pula dari mereka yang berharap penjualan akan kembali meningkat dalam beberapa waktu ke depan.
Sumber: kompas.com
Leave a Reply