Soal Pajak Sepeda, Bagaimana Penerapannya di Negara Maju?

Menko Airlangga Kaji Potensi Kerjasama Ekonomi dengan Uni Eropa
July 1, 2020
Pemerintah Terbitkan Aturan Akselerasi Belanja Penanganan Covid-19
July 1, 2020

Polemik pajak sepeda muncul ke publik. Pemicunya, beberapa media nasional mengutip perkataan Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan Budi Setiyadi.

“Kalau waktu saya kecil, saya mengalami sepeda disuruh bayar pajak dan sebagainya. Mungkin bisa ke sana. Tapi ini sejalan revisi Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009, sudah diskusi dengan Korlantas Polri,” demikian omongan Budi pada saat diskusi virtual, Jumat (26/6), seperti dikutip dari Antara. Perkataan ini kemudian yang diartikan sebagai rencana pemerintah untuk memberlakukan pajak sepeda.

Kementerian Perhubungan kemudian membantahnya dalam pernyataan tertulis kemarin. “Yang benar adalah kami sedang menyiapkan regulasi untuk mendukung keselamatan pesepeda,” kata Juru Bicara Kementerian Perhubungan Aditia Irawati. Rincian regulasi itu antara lain pengaturan alat pemantul cahaya bagi para pesepeda, jalur sepeda serta penggunaan alat keselamatan pesepeda.

Dalam UU Nomor 20 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, sepeda dikategorikan sebagai kendaraan tidak bermotor. Karena itu, pengaturannya dapat dilakukan oleh pemerintah pusat dan daerah.

Apakah Indonesia Pernah Terapkan Pajak Sepeda?

Sebenarnya pajak sepeda bukan hal baru di Indonesia. Dulu, pada era 1970 sampai 1980an, ada istilah plombir atau plomber untuk menyebut pajak tersebut. Bentuknya adalah adalah lembaran timah, kertas, plastik, atau stiker untuk menunjukkan pemilik sepeda telah membayar pajak.

Melansir dari Pikiran Rakyat, tiap tahun satu sepeda harus membayar pajak. Bila satu keluarga punya lebih dari satu sepeda, maka semuanya harus membayar pajak yang ditarik oleh pemerintah kabupaten atau kota.

Masyarakat di Yogyakarta ketika itu memasang plombir berupa stiker di kerangka sepeda bagian depan atau tiang di bawah sadel. Ada pula yang memasangnya di dalam lampu sepeda.

Setiap tahun pajak sepeda mengalami kenaikan dan tiap daerah berbeda-beda nilainya. Penarikan pajaknya hampir bersamaan dengan pajak radio. Ketika itu banyak masyarakat memiliki radio transistor karena televisi masih menjadi barang mewah. Di Yogyakarta dan Jawa Tengah, plombir disebut juga plembir atau peneng.

Bagaimana Penerapan Pajak Sepeda di Negara Lain?

Beberapa negara di Eropa justru memberikan insentif bukan pajak untuk pesepeda. Situs World Economic Forum menuliskan, para pekerja di Prancis, Jerman, dan Belgia dapat memanfaatkan potongan pajak US$ 340 untuk membeli sepeda. Tujuannya, untuk mengurangi emisi dari kendaraan bermotor.

Belanda, yang memiliki jumlah sepeda lebih banyak daripada orang, juga memberikan insentif serupa. Bahkan setiap kilometer bersepeda, penduduknya dapat pembebasan pajak sekitar US$ 0,22. Mekanisme ini khusus untuk warga yang naik sepeda ke dan dari tempat kerja.

Di Inggris ada skema cycle to work. Karyawan bisa mendapatkan potongan harga sepeda dan peralatan penunjang lainnya dari perusahaan tempat ia bekerja. Ada juga tunjangan jarak tempuh bagi pesepeda yang memakai sepedanya untuk keperluan bisnis, sekitar US$ 0,26 per mil.

Amerika Serikat pernah memiliki keringanan pajak bagi pesepeda, termasuk uang saku US$ 20 per bulan untuk biaya bersepeda. Namun, Undang-Undang Pemotongan Pajak dan Pekerjaan 2017 menghapus hal itu.

Negara bagian Oregon, AS, pada 2017 juga meloloskan undang-undang pajak sepeda, baik manual maupun elektrik. Besarnya sekitar US$ 15 yang ditagih pada saat penjualan untuk harga sepeda minimal US$ 200. Pendapatan dari pajak ini difokuskan untuk proyek transportasi sepeda dan pejalan kaki.

Sumber : katadata.co.id

Leave a Reply

Your email address will not be published.

WhatsApp WA only