Hashim Sebut Sistem Perpajakan RI Paling Lemah

Utusan Khusus Presiden untuk Energi dan Lingkungan Hidup sekaligus adik Presiden Prabowo Subianto, Hashim Djojohadikusumo, menyoroti kinerja aparat pajak dan bea cukai. Ia menilai, lemahnya kinerja aparat di kedua lembaga tersebut menjadi salah satu penyebab stagnannya rasio penerimaan negara Indonesia selama lebih dari satu dekade terkahir.

“Kalau aparat pajak, aparat bea cukai, aparat semuanya bekerja dengan benar, Indonesia bukan negara dengan defisit, Indonesia negara surplus. Indonesia negara kaya,” ujat Hashim, Sabtu (13/12).

Ia menyebut rasio penerimaan negara masih bertahan di kisaran 9%-12% terhadap produk domestik bruto (PDB), menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara dengan sistem perpajakan terlemah di dunia. Hashim mengacu pada data Bank Dunia, bahwa penerimaan dari pajak, penerimaan negara bukan pajak (PNBP), royalti, dan cukai tidak naik signifikan sejak 2013.

Hashim memaparkan, sekitar satu dekade lalu, rasio penerimaan negara Kamboja sekitar 9%, lebih rendah dari Indonesia yang sekitar 12%. Saat ini, rasio penerimaan Kamboja melonjak menjadi 18% sementara Indonesia masih stagnan.

Menurut Hashim, selisih 6% memiliki dampak yang sangat besar terhadap keuangan negara. Dengan PDB RI sekitar Rp 25.000 triliun, tambahan penerimaan 6% setara dengan Rp 1.500 triliun pertahun. Ia meyakini Menkeu Purbaya bisa mengatasi permasalahan tersebut.

Sumber : Harian kontan, Senin 15 Desember 2025, Hal 2

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp WA only