MENTERI Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyinggung kemungkinan Indonesia memungut pajak dari kapal yang melintas di wilayah perairan Selat Malaka, jalur strategis perdagangan yang masuk kawasan RI, Singapura dan Malaysia. Langkah itu, menurut dia, bisa saja dilakukan seperti Selat Hormuz yang diblokade oleh Iran.
Pernyataan itu diungkapkan oleh Purbaya saat menjadi pembicara dalam acara Simposium PT SMI, di Jakarta, Rabu, 22 April 2026. “Sekarang Iran men-charge Kapal lewat Selat Hormuz. Kalau kita bagi tiga, Indonesia, Malaysia, Singapura, lumayan kan? Punya kita jalurnya paling besar, paling panjang,” ucapnya.
Bila langkah tersebut dilakukan, Indonesia bisa dapat untung lebih dibandingkan dengan negara lain. “Kalau bisa seperti itu, tapi kan enggak begitu,” ucapnya. Dengan kekayaan yang dimiliki Indonesia, Purbaya menyatakan Indonesia mestinya tak defensif, namun bersikap ofensif tapi tetap terukur.
Pada kesempatan tersebut juga Purbaya menyatakan kondisi global saat ini sedang tidak stabil, konflik geopolitik meningkat, dan rantai pasok terfragmentasi. Suku hubungan global masih tinggi, atau higher for longer dan banyak negara mengalami perlambatan pertemuan ekonomi.
Meski demikian, ia memastikan Indonesia masih mampu mencapai pertumbuhan ekonomi di atas 5 persen. Pada triwulan keempat tahun lalu pun ekonomi RI tumbuh 5,39 persen.
Ia juga memaparkan saat ini inflasi masih terkendali dan defisit anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) masih dijaga di bawah 3 persen terhadap produk domestik bruto (PDB). Artinya, kata dia fundamental ekonomi RI masih kuat karena dengan defisit di bawah 3 persen, Indonesia masih bisa tumbuh di atas 3 persen.
Adapun hingga Maret, APBN telah mengalami defisit Rp 240,1 triliun atau 0,93 persen terhadap PDB. Pendapatan negara tercatat mencapai Rp 574,9 triliun dan belanja negara menembus Rp 815 triliun.
Sumber : tempo.co

WA only
Leave a Reply