Wakil Menteri Keuangan Juda Agung mengungkapkan, kenaikan harga minyak dunia menjadi ancaman serius bagi ketahanan fiskal Indonesia. Ini terutama di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Menurut Juda, setiap kenaikan harga minyak sebesar US$ 1 per barel dapat menambah beban defisit APBN hingga Rp 6,8 triliun. Meski demikian, pemerintah memastikan harga BBM subsidi tidak akan dinaikkan demi menjaga daya beli masyarakat dan stabilitas inflasi.
“Strategi kami adalah menjaga pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat, namun tetap dengan disiplin fiskal,” ujar Juda, Selasa (19/5).
Untuk menahan tekanan fiskal, pemerintah melakukan efisiensi belanja yang tidak mendesak dan mengarahkan anggaran ke sektor produktif seperti program makan bergizi gratis (MBG), hilirisasi, dan industrialisasi.
Pemerintah juga optimis defisit APBN tahun ini tetap terjada di level 2,94% terhadap PDB atau masih di bawah batas 3%. Di sisi lain, Juda memastikan, kondisi fiskal masih aman, dengan dukungan saldo anggaran lebih (SAL) sebesar Rp 420 triliun sebagai bantalan menghadapi gejolak ekonomi global.
Juda juga menegaskan kondisi ekonomi Indonesia saat ini jauh erbeda dibandingkan krisis 1998. Ia menilai sektor perbankan nasional kini lebih kuat dengan pengawasan yang lebih kuat.
Sumber : Harian Kontan, Rabu 20 Mei 2026, Hal 2

WA only
Leave a Reply