Biaya utang pemerintah pada 2027 diproyeksikan masih relatif, berisiko menjadi tekanan terhadap ruang fiskal pemerintah.
Dalam RAPBN 2027, pembiayaan anggaran ditetapkan sebesar Rp 671,2 triliun untuk menutup defisit dengan nominal yang sama, atau setara 2,4% terhadap produk domestik bruto (PDB). Sementara itu, asumsi tingkat bungan SBN 10 tahun dipatok sebesar 6,9% naik dari batas bawah usulan dalam Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) 2027 di kisaran 6,5%-7,3%.
Lead Economist Bank Danamon Indonesia Irman Faiz mengatakan, biaya utang pemerintah 2027 masih akan menjadi salah satu tekanan terhadap ruang fiskal. Pemerintah masih menghadapi kebutuhan pembiayaan yang besar, termasuk untuk membiayai kembali utang yang jatuh tempo di tengah suku bunga global yang masih relatif tinggi.
Dengan porsi 87% utang pemerintah berbentuk SBN, perubahan yield akan cepat ditranmisikan ke biaya penerbitan utang baru. “Ketika pembayaran bunga tumbuh lebih cepat daripada penerimaan, porsi anggaran yang tersedia untuk belanja produktif akan semakin terbatas,” jelasnya.
Oleh karena itu, pemerintah dinilai perlu memastikan tambahan utang dapat menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi untuk mengimbangi biaya pendanaannya.
Sumber: Harian Kontan, Selasa 18 Agustus 2026, Hal 2

WA only
Leave a Reply