Insentif keringanan pajak properti membawa angin segar bagi PT Metropolitan Land Tbk (MTLA) atau Metland untuk mendulang permintaan dari konsumen. MTLA akan mengoptimalkan insentif pajak ini hingga akhir tahun nanti.
Direktur MTLA Olivia Surudjo menjelaskan, Metland membukukan prapenjualan atau marketing sales sebesar Rp 1,42 triliun hingga September 2026. Realisasi tersebut setara 71,2% dari target sepanjang tahun ini sebesar Rp 2 triliun.
Sekitar 65% marketing sales residensial Metropolitan Land berasal dari produk yang memanfaatkan insentif Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP).
“Hingga akhir tahun, kami akan fokus mengoptimalkan pemasaran produk residensial dan kinerja mal, hotel, serta aset komersial untuk mengejar target yang telah ditetapkan, dengan tetap mencermati kondisi pasar,” ujar Olivia kepada KONTAN, Rabu (28/10).
Untuk mengoptimalkan pemasaran, MTLA telah menyiapkan sejumlah strategi, mulai dari menawarkan kemudahan cara pembayaran hingga program hadiah langsung. Menurut Olivia, prospek permintaan residensial masih cukup baik karena hunian merupakan kebutuhan primer, terutama bagi segmen end-user.
Selain mengandalkan insentif PPN DTP, Olivia mengakui bahwa permintaan pasar tetap dipengaruhi oleh daya beli masyarakat, suku bunga kredit pemilikan rumah (KPR), serta kesiapan produk.
Metland sedang mengembangkan tujuh proyek residensial yang tersebar di Jakarta, Bekasi, dan Tangerang. Segmen pasar yang dibidik mencakup kelas menengah bawah, menengah, dan atas.
Beberapa proyek klaster yang dikembangkan tahun ini antara lain Neora di Metland Menteng, Kertanata di Metland Kertajati, dan Brassia Garden di Metland Cikarang.
MTLA juga melanjutkan pemasaran sejumlah produk unggulan, seperti klaster Walden di Metland Transyogi, Barcelona Cove dan South Tresor Phase 2 di Metland Cyber Puri, serta Havana Breeze di Metland Cibitung.
Selain itu, Metland akan mendorong pendapatan berulang atau recurring income dari aset komersial mereka. Proyek komersial berupa mal dan hotel ini diharapkan memberikan keuntungan bagi pemilik dan pengguna, sekaligus mendorong perolehan pendapatan Metland.
Proyek komersial Metland tersebar di kawasan Bekasi, Cirebon, dan Bali. “Kami akan mengoptimalkan kedua segmen tersebut, marketing sales dan pendapatan berulang, sesuai dengan perkembangan pasar,” ucap Olivia.
Hingga kini, Metland belum merilis laporan keuangan kuartal III-2026. Namun, Olivia menjelaskan bahwa marketing sales yang banyak memanfaatkan program PPN DTP baru akan dibukukan pada Desember 2026. Dengan demikian, angka penjualan hingga September belum akan terlihat meningkat signifikan.
“Sementara itu, kami tetap fokus menjaga kinerja operasional dan mengoptimalkan kontribusi dari kedua segmen perusahaan,” tutur dia.
Dari sisi belanja modal atau capital expenditure (capex), MTLA hingga September 2026 sudah merealisasikan Rp 561 miliar atau 70% dari total anggaran capex tahun ini sebesar Rp 800 miliar.
Dana capex antara lain digunakan untuk pengembangan proyek residensial di sejumlah kawasan Metland, juga Metland Marron Hotel Tomohon di Sulawesi Utara sebagai bagian dari pengembangan bisnis perhotelan.
Pada semester I-2026, MTLA meraih pendapatan Rp 791,68 miliar, lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 837,02 miliar. Dari jumlah itu, senilai Rp 441,42 miliar atau 55,75% pendapatan berasal dari segmen real estat, yakni penjualan tanah dan bangunan. Segmen ini adalah penyumbang pendapatan terbesar MTLA.
Penurunan pendapatan berimbas pada laba bersih yang turun 19% menjadi Rp 168,64 miliar pada akhir Juni lalu.
Sumber : Harian Kontan, Sabtu, 31 Oktober 2026, Hal 9.

WA only
Leave a Reply