Era sudah berubah,zaman sudah berganti. Tak terkecuali di dunia otomotif.Dunia sangat dinamis dan penuh inovasi teknologi. Jika selama ini kita akrab dengan kendaraan bermotor berbahan bakar minyak, kini era kendaraan listrik sudah di depan mata.
Era ini semakin nyata setelah beleid berupa peraturan presiden (perpres) no 55. 55/2019 tentang percepatan program kendaraan bermotor listrik berbasis battery untuk transportasi jalan,keluar pada 8 agustus silam. Payung hukum mobil ramah lingkungan ini juga akan didukung peraturan pemerintah (PP) baru, hasil dari revisi PP nomor 41 tahun 2013, tentang pajak penjualan atas barang mewah (ppnbm).
Autran ini, sejatinya sudahh ditunggu oleh banyak perusahaan selama 2 tahun. Dalam setiap pameran otomotif, para produsen getol memamerkan mobil listrik entah yang masih berupa mobil konsep maupun sudah diproduksi. Hanya saja produknya memang belum dijual di indonesia.Karena itu, harusnya setelah ini,industri otomotif lebih bergairah untuk masuk ke produk mobil listrik.
Pemerintah yakin menyeriusi industri mobil listrik karena ada beberapa produsen besar memberi komitmen untuk masuk. Putu juli ardika, direktur industri maritim, alat transportasi dan alat pertahanan kementerian perindustrian menyebut, nilai investasi yang siap masuk ke industri mobil listrik mencapai US$4 MILLIAR. “ada dua pemain besar yang siap masuk, yakni toyota dan hyundai,” ujarnya. Kabarnya, kongsian antara nissan dan mistubishi juga tertarik.
Sejauh ini, beberapa produsen otomotif besar itu memang belum secara jelas menunjukkan bentuk investasinya dalam industri mobil listrik. Hyundai motor, misalnya masih menunggu kepastian dari kantor pusat. Toyota yang selama ini menggandeng astra internasional juga belum secara lugas menyebut akan membuka lini produksi baru.
Justru yang pasti, dalam dua tahun kedepan toyota belum akan meluncurkan mobil listrik secara penuh( full cell electric vehicle). Dimasa transisi itu, toyota lebih condong mendatangkan mobil hibrida, entah jenis hybird electric vehicle (EV) dan plug-in hybird EV.
Tentunya,produsen besar yang lebih dulu menggarap mobil listrik, sekaligus tahu pasar indonesia maupun regional, paling potensial mengambil kesempatan ini. Sejauh ini, produsen otomotif dari jepang belum terlihat menonjol dalam penjualan mobil listrik. Hanya nissan yang sampai tahun lalu bisa menembus 4% pangsa pasar mobil listrik dunia.
Produsen mobil listrik terbesar berasal dari china, yakni build your dream (BYD) Corp. Saat ini, BYD memang belum langsung masuk ke Indonesia. Perusahaan itu masuk melalui PT Bakrie & Brothers Tbk dengan memproduksi kendaraan penumpang (bus) bertenaga baterai.PT bakrie Autoparts akan memasok otomotif bagi byd indonesia.
Adinda armnesia,public relation hyundai mobil indonesia, menyatakan bahwa pihaknya serius untuk berinvestasi di mobil listrik. Namun, saat ini, hyundai masih dalam tahap mempelajari aturan yang baru keluar. “kami masih dalam pembahasan, model mana yang cocok untuk di jual di indonesia, “ tuturnya.
Hyundai sudah mempunyai beberapa model kendaraan listrik yang menggunakan mesin ramah lingkungan. Misalnya , hyundau IONIQ dengan tiga pilihan mesin ramah lingkungan, yaitu hybird EV, plug-in hybird EV dan full EV. Ada juga Hyundai Kona electric, Hyundai Nexo, dan Hyundai sonata hybrid.”rencana rinci ke depan masih akan kami bahas,” jelas adinda.
Hyundai juga belum memastikan, siapa mitra lokal tang akan digandeng dalam memproduksi mobil listrik di indonesia. “masih dalam proses pembicaraan lebih lanjut, “ ujar adinda.
Produsen otomotif asal jepang, mitsubishi corp. Yang kabarnya bakal mengajak nisan di produksi mobil listrik juga belum memastikan kapan bakal memroduksi mobil listrik di indonesia. Irwan kuncoro, Director of sales marketing division PT mitsubishi motors krama yudha sales indonesia (MMKSI) menyebutkan,sebagai langkah awal, Mitsubishi akan mengimpor mobil listrik lebih dahulu.
Jika prospek pasarnya sudah terlihat, sekaligus menimbang apa yang bisa di dapat dari aturan pemerintah yang baru dirilis itu “baru kami bicara produksi lokal setelah itu,” jelas irwan.
Asal tahu saja, Mitsubishi memiliki varian mobil ramah lingkungan seperti outlander PHEV yang diperkenalkan secara resmi di ajang GHAS 2019 lalu.
Entah kenapa, perpres no. 5/2019 tampaknya belum cukup menumbuhkan antusiasme industri otomotif untuk menggarap mobil listrik. Amelia Tjandra, Direktur Marketing Astra Daihatsu motor (adm), menyatakan belum bisa berkomentar banyak terkait rencana bisnis mobil listrik. “kami ingin lebih mempelajari mendalam isi perpres tersebut,”tuturnya.
Yang pasti, membangun industri mobil listrik tak bisa instan. Amelia menyebut, presiden jokowi sendiri mengatakan bahwa butuh waktu untuk membangun industri ini,terutama pabrik batere.”selain itu,harga mobil listrik juga lebih mahal sekitar 40% dari mobil biasa” ungkapnya kepada KONTAN.
Meski begitu, dalam jangka panjang, pelaku industri otomotif meyakini, industri mobil listrik selayaknya dikembangkan. Namun untuk jangka pendek, Amelia tidak yakin harga mobil listrik dapat di tekan. Soalnya perpres tidak serta merta membuat harga mobil listrik bisa setara mobil konvensional. Meski baterai dan sebagian komponen bisa di produksi di dalam negeri,”jika skala produksi masih kecil, hal itu belum mampu menekan harga,” jelasnya
Saat ini, daihatsu ini menjadi pabrikan yang memiliki fasilitas produksi otomotif terbesar di indonesia. Kapasitas produksi per tahun mencapai 500000 unit pabrik itu juga membuat beberapa produk kembar bersama toyota, seperti rush dan terios, avanza dan xenia,agya dan ayla.
Meski terbilang telat, pengembangan industri mobil listrik tetap harus jalan. Agus pambagio, pengamat kebijakan publik menyatakan, seharusnya sejak dua tahun silam kebijakan itu ada. “negara lain sudah mulai duluan. Kita sudah harus secepatnya mengikuti,”tegasnya.
Dengan adanya mobil listrik, Agus melihat, masyarakat merupakan pihak yang paling di untungkan. Soalnya, mereka memiliki beberapa pilihan kendaraan yang bebas emisi.tetapi agar terbeli,pemerintah harus memberikan insentif ke pelaku industri,” kalau tidak ada insentif,tidak ada yang membeli lantaran harganya mahal,”ujarnya.
Pengembangan mobil listrik di dalam negeri juga menguntungkan beberapa perusahaan lokal yang potensial jadi mitra produsen otomotif global, entah sebagai APM maupun pemasok komponen. Tapi, itu tergantung tawaran yang di berikan.”kita sebenarnya sudah ketinggalan dari thailand dan fillipina yang sudah mulai dari tahun lalu. Mereka sudah bekerjasama dengan produsen asal korea dan jepang jelas agus.
Sumber: Tabloid Kontan

WA only
Leave a Reply