Konsumsi dan Investasi Masih Jadi Pemicu Pertumbuhan Ekonomi

Mulai Hari Ini, 1 Maret 2019 Kantong Plastik di Pusat Perbelanjaan Tidak Gratis, Segini Harganya
March 1, 2019
Aprindo Terapkan Kebijakan Biaya Kantong Plastik Seharga Rp 200 Mulai 1 Maret 2019
March 1, 2019

JAKARTA. Pemerintah optimistis perekonomian Indonesia tahun ini akan lebih baik, bahkan bisa mencapai 5,3% sesuai target dalam APBN 2019. Pertumbuhan masih akan didorong konsumsi masyarakat yang cukup kuat. 

Selain itu, pertumbuhan ekonomi 2019 juga akan didorong investasi yang diperkirakan meningkat jika dibandingkan realisasi 2018. Kenaikan investasi itu lantaran kenaikan suku bunga tidak seperti tahun 2018 dan kepercayaan investor masih tetap terjaga. 

”Prospek 2019 ditandai dalam asumsi APBN 5,3%. Apakah itu mampu dicapai? Saya jawab mampu. Faktornya, konsumsi, investasi meningkat, kenaikan suku bunga dengan kondisi yang lebih calm,” ujar Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati di Jakarta, kemarin. 

Sri Mulyani menuturkan, optimisme tersebut juga terlihat dari penerimaan perpajakan yang tumbuh double digit dalam dua tahun terakhir. ”Tahun 2017 tumbuh 18%, tahun lalu 11%, agak lebih rendah, tetapi tetap double digit di atas pertumbuhan ekonomi Indonesia,” ungkapnya. 

Sektor perdagangan juga melonjak tinggi. Pada 2017, pertumbuhan penerimaan pajak dari sektor perdagangan 15%, sedangkan pada 2018 tumbuh sebesar 23%. Pertumbuhan pajak dari industri jasa keuangan mendekati 12%, sektor pertambangan recover tumbuh 51%, dan pertanian tumbuh 21%. 

Menurut Menkeu, pertumbuhan pendapatan pajak dari berbagai sektor ekonomi tersebut menggambarkan kegiatan ekonomi di sektor-sektor itu sangat kuat. Artinya, kalau sektor-sektor tersebut melakukan produksi terus, maka pada saat yang sama sektor itu membutuhkan investasi baru, tambah kapasitas, atau investasi di tempat baru. ”Ini yang akan kita tangkap dengan berbagai policy kemudahan investasi,” ujarnya. 

Sri Mulyani mengatakan, dari sisi penerimaan pajak klasifikasi pajak pertambahan nilai (PPN) dan pajak penghasilan (PPh) korporasi juga tumbuh tinggi. Hal ini menggambarkan penerimaan pajak merupakan cerminan dari kegiatan ekonomi yang ada. 

”Pajak dan perpajakan termasuk bea dan cukai bukan hanya sebagai instrumen negara. Kami menggunakan instrumen ini untuk menciptakan iklim investasi yang baik. Makanya, kami juga melakukan pelayanan dan memberikan fasilitas,” ujarnya. 

Pertumbuhan ekonomi dari faktor domestik, Sri Mulyani optimistis masih kuat. Di sisi lain, pemerintah juga memantau dari sisi sektor keuangan agar siap menunjang perekonomian. ”Dengan APBN dan instrumen fiskal yang sehat serta terkelola dengan baik, itu bisa digunakan untuk terus menopang dan menjaga ekonomi Indonesia,” katanya. 

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo juga optimistis Indonesia bisa tumbuh lebih tinggi meski Indonesia masih berada dalam gejolak ketidakpastian global. Untuk konsumsi, BI memperkirakan masih akan tumbuh 5,5%. Sementara investasi diproyeksikan akan tumbuh 6,7%. Adapun tantangan pada 2019 berasal dari defisit neraca transaksi berjalan. 

”Perkiraan BI ekonomi Indonesia akan tumbuh 5,2%. Masalahnya dari global masih ada gonjang-ganjing sehingga sulit menggenjot ekspor. Net imporekspor masih negatif,” ujarnya. Perry juga optimistis nilai tukar rupiah akan stabil bahkan cenderung menguat. Hal ini karena pasar valas Indonesia semakin berkembang. 

”Ekonomi Indonesia akan lebih kuat tahun ini, tahun depan, dan seterusnya. Perbaikan iklim dan investasi akan mendorong pola ekonomi pada 2020 dan seterusnya,” ujarnya. 

Sementara itu, Rapat Dewan Komisioner (RDK) Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai stabilitas dan likuiditas sektor jasa keuangan dalam kondisi terjaga, sejalan dengan penguatan kinerja intermediasi dan perbaikan profil risiko lembaga jasa keuangan pada Januari lalu. 

Beberapa sentimen positif mendorong penguatan pasar keuangan global dan aliran modal ke emerging markets, termasuk Indonesia. Deputi Komisioner Manajemen Strategis dan Logistik OJK Anto Prabowo mengatakan, kebijakan the Fed diperkirakan akan semakin akomodatif, terlihat dari pernyataan-pernyataan pejabat the Fed yang cenderung dovish. 

”Hal ini menguatkan ekspektasi pasar bahwa the Fed belum akan meningkatkan suku bunga kebijakannya,” ungkap dia, kemarin. 

Selain itu, sentimen positif juga berasal dari turunnya tensi perang dagang seiring berlangsungnya perundingan dagang AS dan China. Sejalan dengan hal itu, masuknya investasi portofolio ke pasar keuangan domestik mendorong surplus Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pada kuartal terakhir 2018.

Sumber: Sindonews.com

Leave a Reply

Your email address will not be published.

WhatsApp WA only