Akhir Sesi I, IHSG Masih Betah di Dasar Klasemen

Dongkrak Ekonomi China, Pajak Akan Dikurangi Hingga USD298 miliar
March 6, 2019
Rupiah Semakin Lesu, IHSG Turun Lebih dari 1%
March 6, 2019

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih betah menjadi indeks saham dengan kinerja terburuk di kawasan Asia hingga tengah hari. Per akhir sesi 1, IHSG ambruk 1,11% ke level 6.416,13. Tak sekalipun IHSG merasakan manisnya zona hijau pada hari ini.

Sejatinya, mayoritas indeks saham kawasan Asia lainnya juga diperdagangkan melemah. Namun, tak ada yang membukukan pelemahan lebih dalam dari IHSG. 

Sinyal perlambatan ekonomi dunia yang kian kuat digaungkan sukses memantik aksi jual di bursa saham Benua Kuning. Kemarin (4/3/2019), Biro Sensus AS melaporkan bahwa belanja konstruksi pada Desember 2018 turun 0,6% dibandingkan bulan sebelumnya, jauh lebih buruk dibandingkan dengan konsensus yang memperkirakan pertumbuhan sebesar 0,2% MoM, seperti dilansir dari Forex Factory.

Selama 2018, belanja konstruksi naik 4,1% dibandingkan tahun sebelumnya. Meski membukukan pertumbuhan, tetapi capaian tersebut adalah laju yang paling lemah sejak 2011.

Sebelumnya, perlambatan ekonomi AS juga ditunjukkan oleh ekspansi aktivitas sektor manufaktur yang tak sekencang ekspektasi. Manufacturing PMI periode Februari 2019 versi ISM diumumkan di level 54,2, lebih rendah dibandingkan konsensus yang sebesar 55,6, seperti dilansir dari Forex Factory.

Beralih ke kawasan Asia, pada hari ini pemerintah China memangkas target pertumbuhan ekonomi untuk tahun 2019 menjadi di kisaran 6%-6,5%. Sebelumnya, target pertumbuhan ekonomi tahun 2019 dipatok di kisaran 6,5%, seperti dilansir dari Bloomberg. Sebagai informasi, perekonomian China tumbuh hingga 6,6% pada tahun 2018.

Jika yang terealisasi nantinya adalah target pertumbuhan ekonomi di batas bawah (6%), maka itu akan menjadi pertumbuhan ekonomi terlemah dalam nyaris 3 dekade. 

Memang, pemerintah China tak tinggal diam. Bersamaan dengan revisi ke bawah target pertumbuhan ekonomi, pemerintah China juga mengumumkan pemotongan tingkat pajak senilai US$ 298 miliar untuk tahun ini guna menahan laju perlambatan ekonomi. Salah satu tingkat pajak yang dipangkas adalah Pajak Pertambahan Nilai (PPN) untuk sektor manufaktur.

Namun, pelaku pasar sudah terlanjut kecewa dengan target batas bawah pertumbuhan ekonomi yang begitu rendah. Mengingat China merupakan negara dengan perekonomian terbesar kedua di dunia, tentu perlambatan ekonomi di sana akan membuat perekonomian negara-negara lain ikut berada dalam tekanan. 

Sumber : Cnbcindonesia.com


Leave a Reply

Your email address will not be published.

WhatsApp WA only