Kalkulasi Risiko Penting Meski Utang Luar Negeri Masih Aman

Neraca Dagang Surplus, Tertolong Lesunya Impor
March 18, 2019
Sanksi SPT Tahunan Telat
March 18, 2019

Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia akhir Januari 2019 tercatat sebesar US$ 383,3 miliar, tumbuh 7,2% dibandingkan periode yang sama pada 2018, yakni sebesar US$ 357,6 miliar. Namun, jika dibandingkan akhir Desember 2018, pertumbuhan ULN kali ini relatif stabil.

Selain itu, rasio ULN Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) pada akhir Januari 2019 yang tetap stabil di kisaran 36%. Rasio tersebut masih berada di kisaran rata-rata negara yang setara atau peers.

Menurut Bank Indonesia (BI), pertumbuhan ULN itu berasal dari ULN pemerintah. BI mencatat, ULN pemerintah akhir Januari 2019 mencapai US$ 187,2 miliar atau tumbuh 3,7% year on year (yoy), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan bulan sebelumnya sebesar 3,1% yoy.

Dalam keterangan resmi Jumat (15/3) BI menyebut pertumbuhan ULN terutama dipengaruhi oleh arus masuk dana investor asing yang membeli Surat Berharga Negara (SBN) di pasar domestik pada Januari 2019. 

Sementara itu, posisi ULN swasta hanya tumbuh 10,8% yoy, atau melambat dibandingkan dengan pertumbuhan bulan sebelumnya sebesar 11,5% yoy. Perlambatan ini disebabkan pertumbuhan ULN sektor industri pengolahan dan sektor jasa keuangan serta asuransi yang lebih rendah. Di sisi lain, pertumbuhan ULN sektor pertambangan dan sektor pengadaan listrik, gas, uap/air panas (LGA) masih mengalami peningkatan dibandingkan dengan pertumbuhan bulan sebelumnya.

Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual melihat, dalam kurun waktu dua hingga tiga tahun terakhir, ULN pemerintah Indonesia memang mengalami peningkatan. Hal ini terjadi lantaran banyak proyek pembangunan infrastruktur. Namun, posisi saat ini masih relatif aman. “Rasio utang pemerintah, termasuk ULN itu masih bagus. Utang pemerintah hanya 29% dari PDB,” katanya.

Meski demikian, ia mengingatkan pentingnya pengelolaan risiko ULN ke depan. Apalagi, ia melihat adanya risiko kenaikan ULN tahun ini. Salah satunya, karena pengaruh kenaikan bunga acuan Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed).

Sumber: Harian Kontan

Leave a Reply

Your email address will not be published.

WhatsApp WA only