Asia Tenggara Fokus pada Infrastruktur dan Tarik Investor Asia Utara

Menperin Rayu Dubes Jerman Turunkan Bea Masuk Produk RI
March 29, 2019
Mau Dipajaki, Asosiasi E-Commerce Minta PMK Ditunda 2 Tahun
March 29, 2019

Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution menyampaikan pidato pembuka saat menghadiri pembukaan Indonesia Investment Forum 2018 di sela-sela Pertemuan Tahunan IMF World Bank Group 2018 di Nusa Dua, Bali, Selasa (9/10). Forum IIF 2018 tersebut akan membahas paradigma baru dalam pembiayaan infrastruktur. ICom/AM IMF-WBG/M Agung Rajasa/hp/2018.

Pemerintah di negara-negara berkembang Asia Tenggara makin berfokus pada pengembangan infrastruktur dan perubahan kebijakan agar makin menarik di mata investor asing.

Sejumlah negara berkembang di Asia Tenggara yang melakukan hal tersebut yaitu Indonesia, Malaysia, Myanmar, Thailand, dan Vietnam.

Managing Director of Valuation & Advisory Services Colliers Asia David Faulkner mengatakan, dengan adanya pertumbuhan investasi antarnegara dan fokus pada investasi antarsesama negara di Asia, negara-negara Asean terlihat memiliki minat lebih tinggi untuk menarik investor asing, terutama dari Asia Utara.

“Namun, pelaku investasi harus berhati-hati juga sebelum memutuskan apakah pasar yang baru itu bisa layak menjadi tambahan dalam portofolio investasinya,” ujarnya dalam laporan tertulis, Kamis (28/3/2019).

Di Indonesia, pasar propertinya saat ini terkonsentrasi di dua kota besar, Jakarta dan Surabaya. Para investor baik asing maupun domestik tercatat terus meningkat setelah adanya perubahan pada kebijakan pemerintah.

“Pengembangan infrastruktur sekarang jadi fokus utama pengembangan bagi pemerintah, yang semakin membuka lebar kesempatan untuk pengembangan transit oriented development [TOD] dan kawasan industri. Bergantung pada roduk yang dikembangkan, imbal hasil investasi yang didapat bisa berada di kisaran 6-10%,” jelas Faulkner.

Selanjutnya di Malaysia, pemerintahnya mengusulkan insentif pajak untuk mendorong pembangunan yang diutamakan seperti digitalisasi industri, menstabilkan sektor properti, dan mengurangi biaya berbisnis di Malaysia.

“Kesempatan untuk pasar properti terbuka lebar di Kuala Lumpur di sektor perkantoran dan ritel. Dari sana, imbal hasil yang bisa didapatkan bisa mencapai 5,5 – 6,5%,” imbuhnya.

Kemudian di Mayanmar, angka keluarga berpenghasilan menengah di Myanmar terus meningkat, sehingga tingkat konsumsi dan keseluruhan anggaran belanjanya pun mengikuti. Kesempatan investasi di Myanmar terpusat di Yangon.

“Di sana, pasar ritel memberikan kesempatan investasi lebih cerah karena menyediakan layanan penunjang gaya hidup dan menjadi tujuan banyak orang dengan tingkat keterisian bisa mencapai 95% dan imbal hasil mencapai 8%,” paparnya.

Faulkner menambahkan, investasi di gedung perkantoran dan apartemen di Myanmar juag memberikan potensi besar untuk investasi dengan imbal hasil mencapai 10,5%.

Selanjutnya, di Filipina, aktivitas perekonomiannya masih terpusaat di Manila. Pemerintahnya berinvestasi besar untuk pembangunan infrastruktur.

“Dilihat dari sektor propertinya, pasar kantor Manila tetap kuat dengan keterisian mencapai 95% dan adanya pertumbuhan pasok hingga 36% secara year-on-year [yoy]. Imbal hasilnya dari investasi di sektor kantor bisa mencapai 5,6%,” tambahnya.

Kemudian, tingkat serapan properti residensial pada 2018 juga tercatat tinggi, mencapai rekor hingga 54.000 unit dengan imbal hasil 4,5%.

“Kami yakin di Filipina, kesempatannya lebih besar terbuka di daerah pinggiran kawasan CBD [Central Business District] dan di sekitar wilayah yang sedang dilakukan pembangunan infrastruktur,” terangnya.

Di Thailand, Bangkok menjadi pendorong utama perekonomian Thailang, terutama di sektor perkantoran dan perhotelan.

“Kedatangan turis terus naik, dan investor hotel terus mendapatkan kenaikan keuntungan dari sana. Imbal hasil dari perhotelan di Bangkok bisa mencapai sekitar 6%. Kesempatan juga terbuka untuk investasi di renovasi kantor di CBD Bangkok, di mana pasar sedang megalami penyusutan pasok sehingga imbal hasilnya bisa mencapai sekitar 5,5%,” kata Faulkner.

Terakhir di Vietnam, pada 2018 Vietnam sudah menarik investasi dari asing hingga sekitar US$300 miliar dan menjadi tujuan populer bagi investor dari Jepang, Singapura, dan beberapa negara lainnya.

Colliers Asia memprediksikan, sektor industri Vietnam mencatatkan pertumbuhan yang kuat dalam beberapa tahun ke depan dengan Vietnam yang juga makin terkenal sebagai tujuan untuk operasional industri.

“Kami memperkirakan akan ada lebih banyak penawaran dan transaksi di sektor industrial oleh para investor asing. Selain itu, di kota besar, sektor perkantoran dan ritelnya juga mencatatkan tingkat keterisian yang tinggi, sehingga imbal hasilnya masing-masing bisa mencapai 5,5% dan 8,5%.”

Sumber: bisnis.com

Leave a Reply

Your email address will not be published.

WhatsApp WA only