Wow! Aliran Keuangan Gelap Sawit Cs Tembus Rp 1.988,98 T

Sri Mulyani: Program Secondment Akan Tingkatkan Penerimaan Negara
March 29, 2019
Sri Mulyani: Daya Saing Infrastruktur Indonesia Masih Tertinggal dari Malaysia
March 29, 2019

Prakarsa berkolaborasi dengan Ford Foundation merilis hasil riset bertajuk “Aliran Keuangan Gelap di Enam Komoditas Ekspor Unggulan Indonesia” di Madame Delima Resto, Jakarta, Kamis (28/3/2019).

Berdasarkan hasil penelitian Prakarsa pada kurun waktu 1989-2017, aliran keuangan gelap enam komoditas ekspor unggulan Indonesia, yaitu batu bara, tembaga, minyak sawit, karet, kopi, dan udang-udangan/krustasea sebesar US$ 142,07 miliar atau setara Rp 1.988,980 triliun (kurs Rp 14.000/US$). Keenam komoditas ekspor unggulan itu menyumbang 21% dari total ekspor Indonesia di tahun 2017.

Jumlah itu terdiri dari aliran keuangan gelap yang masuk ke Indonesia dengan cara over-invoicing sebesar US$ 101,49 miliar atau setara Rp 1.420,86 triliun. Sedangkan aliran keuangan gelap yang keluar dari Indonesia dengan cara under-invoicing mencapai US$ 40,58 miliar atau setara Rp 568,12 triliun.

“Potensi kehilangan penerimaan pajak Indonesia dalam kurun waktu tersebut mencapai US$ 11,1 miliar (Rp 155,4 triliun), dengan sektor batu bara menyumbang US$ 5,32 miliar (Rp 74,48 triliun),” tulis laporan riset Prakarsa.

Direktur Riset Center of Reform on Economic (CORE) Piter Abdullah menjelaskan, potensi aliran dana gelap (illicit fund) sangat besar karena terakumulasi dari tahun ke tahun serta bisa bersumber dari banyak hal.

“Sumbernya itu bisa seperti ini perdagangan ekspor-impor, transfer pricing, dan yang porsinya jauh lebih besar dari korupsi, human trafficking dan perdagangan narkotika,” ujar Piter.

Dia pun menyayangkan kebijakan Kementerian Perdagangan (Kemendag) mengalihkan pengawasan impor menjadi post-border. Sebab, hal itu jelas-jelas memperlonggar pengawasan.

“Sudah jelas kebijakan seperti post-border itu sangat memungkinkan terjadinya over-invoicing dan under-invoicing. Dan aliran dana gelap itu terakumulasi setiap hari, mungkin hari ini pun terjadi,” kata Piter.

Ekonom Universitas Indonesia (UI) Fithra Faisal juga mengritik kebijakan post-border Kemendag karena memicu praktik pengalihan kode HS (circumvention) yang dilakukan eksportir dari negara lain.

“Hal ini mengakibatkan terjadinya impor berlebihan di komoditas besi dan baja dalam beberapa tahun terakhir,” ujar Fithra.

Sumber: CNBC Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published.

WhatsApp WA only