Perang Dagang AS-China Jatuhkan Kepercayaan Pebisnis Jepang

Pengamat: Perlu upaya ekstra untuk mendorong kepatuhan pelaporan pajak
April 2, 2019
Estu Budiarto Harap Penerimaan Pajak di Jakarta Pusat Bisa Mencapai Rp1.500 Triliun
April 2, 2019

Bank Sentral Jepang (Bank of Japan/BoJ) merilis survei kepercayaan pebisnis di Negeri Sakura periode Maret 2019, Senin (1/4/2019). Dalam survei itu, kepercayaan pebisnis merosot ke level terendah dalam dua tahun terakhir.

Menurut laporan BoJ seperti dilaporkan Reuters, penurunan itu dipicu oleh perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China. Hal itu ditambah pelemahan permintaan global yang tak ayal berimbas kepada Jepang yang begitu bergantung kepada ekspor.

Penurunan sentimen paling menonjol terlihat di level produsen besar di mana sentimen memburuk pada laju tercepat dalam enam tahun. Hal itu memicu kekhawatiran ketidakpastian atas prospek global dapat menghambat perusahaan untuk meningkatkan upah dan pengeluaran.

Indeks utama untuk sentimen produsen besar bertahan di plus 12 di bulan Maret, lebih buruk dari pada plus 19 yang tercatat tiga bulan lalu dan perkiraan pasar rata-rata di plus 14. Demikian survei “tankan” kuartalan yang dipantau BOJ, Senin.

Indeks itu mencapai level terendah sejak Maret 2017 dan jatuh pada laju tercepat sejak Desember 2012. Ini karena produsen merasakan kesulitan dari merosotnya permintaan untuk komponen elektronik, mobil dan barang-barang mesin.

Indeks untuk non-produsen turun ke plus 21 dari plus 24 dalam survei Desember, mencapai level terendah sejak Maret 2017 dan menggarisbawahi perkiraan pasar di plus 22.

Survei menunjukkan, baik pabrikan besar dan non-pabrikan memperkirakan kondisi bisnis akan memburuk lebih lanjut dalam tiga bulan ke depan. Hal itu berarti dampak dari memanasnya ketegangan dagang bisa meluas.

Secara terpisah, pada Senin (1/4/2019), survei bisnis swasta menunjukkan aktivitas manufaktur di Jepang mengalami kontraksi untuk bulan kedua berturut-turut di bulan Maret, dengan output turun pada tingkat paling tajam dalam hampir tiga tahun.

Survei suram itu mendukung pandangan bahwa kebijakan PM Jepang Shinzo Abe yang dijuluki “Abenomics” tidak membuahkan hasil. Hal itu membuat Bank of Japan (BOJ) berada di bawah tekanan untuk mempertahankan atau bahkan meningkatkan program stimulus besar-besaran.

Jika kelemahan eksternal menyebar ke permintaan domestik yang relatif kuat, hal itu akan menekan Abe untuk membuat kebijakan penaikan pajak penjualan dua kali, yang dijadwalkan untuk berlaku pada Oktober. Ini karena ia lebih fokus pada pertumbuhan dibandingkan reformasi fiskal.

“Kami melihat angka-angka yang lemah secara keseluruhan dan prospeknya memburuk, mencerminkan perlambatan ekonomi Jepang,” kata Hiroshi Miyazaki, ekonom senior di Mitsubishi UFJ Morgan Stanley Securities.

“Pada akhirnya, ekonomi yang melambat akan merugikan lapangan kerja, sehingga ada peluang yang berkembang bahwa BOJ harus memeriksa kembali kebijakannya,” lanjutnya.

Sumber: Cnbcindonesia.com

Leave a Reply

Your email address will not be published.

WhatsApp WA only