Duh, 5 Hari Beruntun Asing Tinggalkan Pasar Saham RI

Pasar Global Bergejolak setelah Trump Ancam Naikkan Tarif Impor atas Produk China
May 8, 2019
Sri Mulyani Belum Tetapkan Sanksi untuk Auditor Garuda
May 8, 2019

Investor asing belum berhenti meninggalkan pasar saham Indonesia. Pada perdagangan hari ini, Rabu (6/3/2019), investor asing membukukan jual bersih (net sell) senilai Rp 52,5 miliar, menandai jual bersih yang kelima berturut-turut.

Pada perdagangan kemarin, jual bersih investor asing bahkan mencapai Rp 1,17 triliun. Hari ini, 5 besar saham yang dilepas investor asing yakni PT Matahari Department Store Tbk/LPPF (Rp 39,9 miliar), PT Gudang Garam Tbk/GGRM (Rp 25,2 miliar), PT Perusahaan Gas Negara Tbk/PGAS (Rp 10,7 miliar), PT United Tractors Tbk/UNTR (Rp 10,5 miliar), dan PT Telekomunikasi Indonesia Tbk/TLKM (Rp 8,3 miliar).

Sentimen yang ada memang masih tak mendukung bagi investor asing untuk melakukan aksi beli (net buy)di pasar saham domestik. Pelaku pasar khawatir bahwa perekonomian China akan mengalami hard landing pada tahun ini.

Setelah tumbuh 6,6% tahun lalu dan ditargetkan naik 6,5% tahun ini, kemarin, Perdana Menteri Li Keqiang dalam pertemuan tahunan parlemen China mengumumkan bahwa target pertumbuhan ekonomi tahun 2019 dipangkas menjadi ke kisaran 6%-6,5%. Jika terealisasi pertumbuhan ekonomi di batas bawah 6%, maka itu akan menjadi pertumbuhan ekonomi terlemah dalam nyaris 3 dekade. 

Memang, gelontoran stimulus sudah diberikan supaya China tak mengalami hard landing. China juga mengumumkan pemotongan tingkat pajak dan biaya untuk korporasi senilai hampir 2 triliun yuan (US$ 298,31 miliar atau sekitar Rp 4.222 triliun). Stimulus fiskal tersebut diarahkan untuk mendukung pertumbuhan di sektor manufaktur, transportasi, dan konstruksi.

Tak hanya itu, pemerintah China juga menaikkan batas atas penerbitan obligasi oleh daerah dari CNY 1,35 triliun pada 2018 menjadi CNY 2,15 triliun pada tahun ini. Tujuannya adalah agar daerah tetap mampu menjaga kinerja pembangunannya masing-masing.

Namun, gelontoran stimulus tersebut tertutupi oleh potensi eskalasi perang dagang dengan AS. Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo menyatakan Presiden AS Donald Trump bisa saja membatalkan kesepakatan dagang dengan China jika hasilnya tidak menguntungkan. 

“Ya,” kata Pompeo ketika menjawab pernyataan apakah Trump bisa meninggalkan perundingan jika hasilnya tidak memuaskan. 

“Perkembangan [perundingan dengan China] memang baik, tetapi harus benar. Ini harus berguna bagi AS, jika tidak maka akan kami paksakan terus. Kami akan mencoba mendapatkan hasil yang baik, saya percaya itu bisa,” lanjutnya, seperti dikutip dari Reuters.

Jika AS dan China sampai gagal menyegel kesepakatan dagang, maka perang bea masuk antar keduanya akan tereskalasi dan semakin membatasi ruang gerak perekonomian China untuk bertumbuh.

Mengingat China merupakan negara dengan perekonomian terbesar kedua di dunia, tentu perlambatan ekonomi di sana akan membuat perekonomian negara-negara lain, termasuk Indonesia, ikut berada dalam tekanan.

Sumber : CNBC Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published.

WhatsApp WA only