JAKARTA – Ekonom Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Yusuf Rendy mengatakan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2020 berpotensi melebar di kisaran 2,0%-2,5% terhadap PDB, lebih tinggi dari target defisit APBN yang dipatok pemerintah sebesar 1,76%.
Pelebaran defisit di antaranya dipengaruhi oleh banyaknya insentif yang diberikan pemerintah untuk menjaga kondisi domestik tetap stabil di tengah mewabahnya virus Korona.
Ia mengatakan bahwa kinerja ekspor impor juga akan tersendat, dalam anggaran pencegahan virus korona ini beberapa insentif berpotensi melebarkan defisit.
“Defisit yang diberikan berupa pengurangan pajak seperti misalnya pegurangan pajak dan hotel restoran sudah tentu akan berdampak pada pelebaran defisit anggaran” jelas dia kepada Investor Daily, Rabu (26/2).
Selain mewabahnya virus korona, saat ini kondisi perekonomian yang sedang melambat seperti sekarang kebijakan fiskal yang countercylical merupakan keniscayaan yang perlu dilakukan pemerintah.
Oleh karena itu, salah satu langkahnya yaitu dengan melebarkan defisit anggaran. Namun dalam pelebaran ini tentu ada sasaran yang jelas yang perlu diperhatikan pemerintah artinya pelebaran defisit perlu didesain.
“Dalam mendorong pariwisata misalnya, pemerintah perlu secara jelas menargetkan kelas usia yang diincar untuk meningkatkan kinerja wisata itu apakah usia milenial kah atau usia produktif? karena pendekatannya kebiakan berbeda,” ungkapannya.
Menurut dia berbagai stimulus insentif yang diberikan pemerintah untuk antisipasi dampak virus korona yang akan berpengaruh terhadap kondisi perekonomian belum terlihat jelas kebijakannya. Sebab insentif justru diberikan pada industri manufaktur dalam negeri, seperti elektronika, mulai kesulitan mendapatkan bahan baku akibat virus korona.
“Kebijakan misalnya pemetaan negara pengganti bahan baku manufaktur yang sulit didapat belum ada, insentif berupa pajak maupun bea untuk penunjang aktivitas manufaktur belum ada,” tutur dia.
Menurutnya insentif yang digelontorkan pemerintah justru fokus pada pariwisata sementara itu, insentif pada sektor manufaktur belum ada rencana mitigasi yang akan diberikan pemerintah dalam hal mencari bahan baku.
“Fokus pemerintah saat ini hanya kepada pariwisata dan belum kelihatan insentif untuk sektor industri manufaktur maka potensi melebarnya defisit akan semakin besar, karena manufaktur menyumbang sekitar 30% (terbesar) dari total penerimaan pajak,” tuturnya.
Jika sektor manufaktur belum diberi insentif maka berpotensi memperburuk penerimaan pajak, dan muaranya ke pelebaran defisit anggaran.
“Untuk angka pastinya belum ada tapi yang jelas potensi defisit neraca dagang untuk melebar di bulan Februari sangat besar,” katanya.
Sumber: Investor.id

WA only
Leave a Reply