Pemerintah merealokasi anggaran untuk penanganan virus corona sebesar Rp 62,3 triliun. Anggaran ini didapat dengan mengalihkan belanja kementerian dan lembaga yang dianggap bukan prioritas.
Sejumlah pihak menilai anggaran untuk penanganan COVID-19 itu terlalu sedikit jika dibandingkan dengan negara lain. Meski demikian, realokasi anggaran itu diproyeksi akan mendorong konsumsi pemerintah.
Bank Indonesia (BI) memproyeksi konsumsi pemerintah di tahun ini akan tumbuh 2,1-2,5 persen. Angka ini melesat jika dibandingkan dengan tahun lalu yang hanya tumbuh 0,48 persen.
“Konsumsi pemerintah pada 2020 diperkirakan tumbuh pada kisaran 2,1-2,5 persen,” tulis laporan perekonomian BI, Senin (30/3).
Anggaran yang dikeluarkan pemerintah itu juga untuk menstimulus perekonomian, terutama untuk meningkatkan daya tahan yang terdampak corona, menjaga daya beli masyarakat, serta memelihara keberlanjutan dunia usaha.
“Kebijakan ini kemudian mendorong kementerian dan lembaga serta pemda melakukan akselerasi belanja, terutama triwulan I 2020 sebagai langkah untuk mengurangi tekanan pertumbuhan ekonomi akibat COVID-19,” jelasnya.
Dalam laporan tersebut, otoritas moneter menilai virus corona berdampak pada berkurangnya permintaan tenaga kerja dan tertahannya pendapatan serta konsumsi, sehingga mengurangi permintaan domestik.
“Terbatasnya kegiatan produksi dan aktivitas ekonomi di negara yang terdampak COVID-19, termasuk Indonesia, diakibatkan terbatasnya pasokan barang dari negara lain untuk keperluan produksi dan pembatasan aktivitas ekonomi untuk pencegahan penyebaran COVID-19,” tulisnya.
Kegiatan ekspor dan impor juga diperkirakan menurun di tahun ini. Ekspor diprediksi menurun hingga 5,6 persen dan impor turun lebih dalam, yakni hingga 9,3 persen. Adapun di 2019, ekspor turun 0,9 persen dan impor turun 7,7 persen.
Sementara itu, konsumsi swasta juga diperkirakan melambat menjadi 4,6-5,0 persen, dari tahun lalu tumbuh 5,2 persen.
Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) atau investasi juga diperkirakan hanya tumbuh 3,1-3,5 persen di tahun ini, melambat dibandingkan tahun lalu yang dapat tumbuh 4,5 persen.
Secara keseluruhan, pertumbuhan ekonomi di tahun ini diproyeksi hanya 4,2-4,6 persen, jauh lebih rendah dibandingkan proyeksi awal BI sebesar 5,0-5,4 persen.
Sementara untuk pertumbuhan ekonomi global, BI memproyeksi tumbuh 2,5 persen di tahun ini dari semula 3,0 persen.
Sumber : Kumparan.com

WA only
Leave a Reply