Perekonomian Nasional Hanya Tumbuh 0 Hingga 1 Persen

DPRD Anggap DKI Dianggap Lamban Antisipasi Anjloknya Pendapatan Akibat Covid-19
May 8, 2020
Siap-siap! Ada ‘Surat Cinta’ Buat yang Nggak Lapor SPT
May 8, 2020

JAKARTA, Ekonom Bank Permata Josua Pardede memperkirakan, pertumbuhan ekonomi berpotensi kontraksi pada kuartal II (Q2) 2020. Mengingat, penurunan aktivitas ekonomi akibat Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang mulai berlaku sejak awal April hingga saat ini.

Jika aktivitas perekonomian belum pulih di kuartal III (Q3), maka pertumbuhan ekonomi nasional 2020 berpotensi lebih rendah dari skenario berat pemerintah.

”Kisaran (pertumbuhan ekonomi) 0 hingga 1 persen. Sedangkan, pemerintah memperkirakan tumbuh 2,3 persen,” kata Josua melalui pesan singkat kepada Jawa Pos, Kamis (7/5).

Menurut dia, pemerintah perlu mempercepat realisasi anggaran belanja secara khusus. Selain itu, Bank Indonesia berpotensi memangkas kembali tingkat suku bunga acuan untuk kebijakan jangka pendek. Dengan tujuan, untuk mempercepat transmisi stimulus fiskal.

Secara khusus bagi sisi fiskal, refocusing dan realokasi anggaran perlu menitikberatkan pada penanganan Covid-19. Artinya, penghematan belanja pemerintah pusat perlu ditingkatkan kembali. Sehingga, sisi permintaan, khususnya konsumsi rumah tangga, dapat dipertahankan daya belinya agar pertumbuhan ekonomi tetap positif.

Dari sisi produksi, penurunan kinerja sektor manufaktur mengindikasikan bahwa kegiatan produksi terdisrupsi oleh Covid-19. Mengingat, sebagian besar negara di dunia, termasuk Tiongkok, memberlakukan lockdown yang menggangu pasokan bahan baku produksi manufaktur nasional.

”Selain itu, keputusan pemerintah untuk melakukan PSBB, berarti berhentinya proses sebagian industri manufaktur di luar sektor dikecualikan oleh pemerintah di berbagai daerah berpengaruh signifikan terhadap industri manufaktur. Khususnya, di pulau Jawa yang sebagian besar lokasi industri manufaktur,”

Untuk mengurangi beban sektor usaha dan industri manufaktur, tata pelaksanaan berbagai insentif yang diberikan pemerintah perlu ditingkatkan. Seperti, insentif pajak PPh 21, 22 dan 25. Sehingga, proses pengajuan insentif pajak secara administratif tidak memiliki kendala di lapangan. (han)

Sementara itu, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo memprediksi puncak penyebaran Covid-19 di bulan April, Mei, dan pertengahan Juni. Selama itu, PSBB akan berlangsung di 70 persen wilayah tanah air.

“Maka dari itu, BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi Q2 tahun 2020 sebesar 0,4 persen,” kata Perry dalam konferensi pers virtual kemarin. Perlahan tapi pasti, pertumbuhan ekonomi naik pada Q3 1,2 persen dan Q4 sebesar 3,1 persen.

Alumnus Iowa State University itu tidak menampik PSBB berdampak terhadap pendapatan masyarakat. Begitu pula pada produksi, investasi, hingga ekspor-impor industri dan dunia usaha.

Menurut Perry, pertumbuhan Indonesia akan membaik pada 2021. Tentunya, dengan penerapan stimulus fiskal dan moneter yanh baik tahun ini. Seperti, suntikan likuiditas perbankan, bantuan sosial, dan restrukturisasi kredit dunia usaha.

Sumber : Radarbogor.id

Leave a Reply

Your email address will not be published.

WhatsApp WA only