Pupuk Indonesia capai rekor produksi 11,8 juta ton dengan pendapatan Rp 71,31 triliun

Ramalan Seram Sri Mulyani: Saat Konsumsi Masyarakat Tumbuh 0%
May 12, 2020
Sri Mulyani Tolak Permohonan Insentif Pajak 22.104 Perusahaan
May 12, 2020

JAKARTA. PT Pupuk Indonesia (Persero) mempertahankan performa positifnya sepanjang tahun 2019.Ini tergambar dari pertumbuhan kinerja konsolidasi produksi, penjualan, pendapatan dan laba sepanjang periode 2019 yang melebihi target yang ditetapkan pemegang saham.

Direktur Utama PT Pupuk Indonesia (Persero) Aas Asikin Idat mengungkapkan, Pupuk Indonesia sepanjang 2019 mencatatkan performa keuangan positif di atas target Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) yang sudah ditetapkan.

Kata dia, total pendapatan usaha sepanjang 2019 mencapai Rp 71,31 triliun, dengan perolehan laba tahun berjalan sebesar Rp 3,71 Triliun atau setara 103,01% dari target RKAP tahun 2019 sebesar Rp 3,60 Triliun.

Perolehan pendapatan dan laba itu lantaran ditopang oleh realisasi volume ekspor pupuk yang cukup tinggi. “Disamping itu, beban keuangan perusahaan pada 2019 tercatat lebih rendah dari rencana dikarenakan perusahaan melakukan pelunasan pembayaran pinjaman jangka pendek dan jangka panjang berkat berkat adanya pembayaran piutang subsidi sebesar Rp 9,7 triliun,” ujar Aas, dalam keterangan tertulis, Minggu (10/5).

Faktor lainnya, menurut Aas, adalah adanya peningkatan kinerja dari anak-anak perusahaan non pupuk yang berada di bawah koordinasi Pupuk Indonesia, antara lain PT Rekayasa Industri, PT Pupuk Indonesia Energi, PT Mega Eltra, PT Pupuk Indonesia Logistik dan PT Pupuk Indonesia Pangan.

Adapun total aset per 31 Desember 2019 mencapai Rp 135,55 triliun atau 100,96 % dari target RKAP. Sementara itu, perusahaan mencatatkan penurunan total liabilitas menjadi Rp 63,80 triliun atau 97,26% dari target RKAP dan 87,55% dibandingkan realisasi tahun sebelumnya.

Penurunan liabilitas disebabkan adanya pembayaran sebagian pinjaman jangka panjang perusahaan dan yang berasal dari pembayaran piutang subsidi oleh Pemerintah RI dan kas internal perusahaan. Di sisi lain, total ekuitas naik Rp 5,72 triliun dibanding tahun sebelumnya menjadi Rp 71,75 triliun.

“Di tahun 2019 kami juga mencatat realisasi setoran pajak kepada negara sebesar Rp7,28 triliun atau 145,44% dari tahun 2018 sebesar Rp 5,48 triliun,” ungkapnya.

Produksi Capai Rekor

Sementara itu, Aas mengatakan, di tahun 2019, Pupuk Indonesia berhasil mencatat rekor produksi tertinggi sepanjang sejarah industri pupuk di Indonesia. Para produsen pupuk dibawah koordinasi Pupuk Indonesia, berhasil memproduksi produk pupuk sebesar 11.838.451 ton, setara 101,84% dari rencana sebesar 11.625.000 ton.

Perusahaan juga berhasil memproduksi amoniak sebesar 5.906.382 ton yang mencapai 101,29% dari rencana yang sebesar 5.831.000 ton, serta asam sulfat dan asam fosfat masing-masing sebesar 849.510 ton dan 270.333 ton atau 99,94% dan 108,13% dari rencana.

“Kinerja produksi tahun 2019 relatif lebih baik dari tahun 2018. Hal ini tercermin dari peningkatan volume produksi sebesar 448.226 ton atau 2,43% dari tahun 2018. Salah satu faktor penyebab peningkatan volume produksi adalah pengoperasian pabrik baru di Gresik yang mulai komersil sejak Agustus 2018,” kata Aas.

Menurut Aas, para produsen pupuk, yaitu PT Pupuk Kaltim, PT Petrokimia Gresik, PT Pupuk Sriwidjaja Palembang, PT Pupuk Kujang dan PT Pupuk Iskandar Muda Aceh berhasil menjaga kehandalan pabrik sehingga menjadi faktor pendukung tingginya produksi. “Hal ini tercermin dari meningkatnya efisiensi penggunaan bahan baku gas,” tambahnya.

Penyaluran pupuk bersubsidi di tahun 2019 tercatat sebesar 8.708.912 ton. Secara persentase, pencapaian ini hanya 91,19%, dikarenakan adanya penyesuaian jumlah alokasi dan penugasan dari Pemerintah.

Sebagai catatan, penugasan pupuk subsidi Perseroan di tahun 2018 adalah 9.550.000 ton, namun Pemerintah melakukan penyesuaian menjadi 8.870.000 ton di 2019. “Kami tentunya mengapresiasi upaya anak perusahaan, khususnya produsen pupuk, dalam menjaga pasokan pupuk ke sektor subsidi sehingga kebutuhan dapat terpenuhi sesuai alokasi,” kata Aas.

Dalam hal penjualan, Perseroan terus meningkatkan penetrasi pasar ke sektor non PSO, khususnya ke perkebunan dan ekspor. Sepanjang 2019, tercatat penjualan pupuk ke sektor komersil sebesar 3.872.740 ton untuk semua jenis pupuk, angka ini setara 111,61% dari target RKAP.

Termasuk juga penjualan ekspor sebesar 2.053.035 ton di tahun 2019, atau 138,81% dari target. Pencapaian penjualan urea di sektor komersil lebih tinggi dari rencana. Hal itu dikarenakan Perseroan berhasil menjaga daya saing, memanfaatkan tingginya permintaan dan momentum harga yang kompetitif di pasar internasional.

Aas menegaskan ekspor hanya dilakukan bila kebutuhan dan stok dalam negeri sudah terpenuhi. “Kami tetap memprioritaskan kebutuhan dalam negeri, dan menjalankan penugasan Pemerintah untuk memproduksi dan mendistribusikan pupuk bersubsidi,” imbuh dia.

Kendati demikian, lanjut Aas, sepanjang 2019 kondisi pasar petrokimia internasional dalam kondisi yang kurang baik, ditandai dengan menurunnya harga komoditas amoniak dan urea. Harga jual amoniak internasional berada pada kisaran US$ 211 – US$ 330 per ton, turun signifikan dibandingkan tahun 2018 yang berada pada kisaran US$ 270 – US$ 375 per ton.

Di sisi lain harga jual urea internasional berada pada kisaran US$ 234 – US$ 290 per ton, merosot dibandingkan tahun sebelumnya yang berada pada kisaran US$ 244 – US$ 353 per ton. Hal ini tentunya cukup berdampak kepada pendapatan dan laba Perseroan secara keseluruhan.

Sumber: Kontan.co.id

Leave a Reply

Your email address will not be published.

WhatsApp WA only