Beban Melonjak, Laba Bersih Bank Permata Anjlok 99,53%

4 Program Penyelamatan UMKM dari Pemerintah Dinilai Tidak Efektif, Ini Alasannya
May 12, 2020
Pengembang Berharap Stimulus Properti Tidak Hanya Subsidi Bunga KPR
May 12, 2020

Meski mencatatkan peningkatan pendapatan bunga dan pendapatan operasional, laba bersih PT Bank Permata Tbk sepanjang kuartal I 2020 anjlok 99,53%. Hal ini terjadi karena adanya lonjakan beban operasional, dan beban pajak.

Mengutip laporan keuangan perusahaan, sepanjang kuartal I 2020 Bank Permata mampu meraih pendapatan bunga sebesar Rp 2,55 triliun, naik tipis 1,79% dibanding kuartal I 2019. Sementara, pendapatan syariah tercatat turun 5,12% menjadi Rp 393,99 miliar.

Setelah dikurangi dengan beban, pendapatan bunga dan syariah bersih Bank Permata tercatat sebesar Rp 1,53 triliun, naik 15,32% dibandingkan kuartal I 2019.

“Peningkatan pendapatan bunga dan syariah bersih ini sejalan dengan pertumbuhan kredit sebesar 5,7% secara tahunan. Pertumbuhan kredit terutama ditopang segmen wholesale banking,” kata Direktur Utama Bank Permata Ridha Wirakusumah, dalam siaran pers, Jumat (8/5).

Bank Permata juga mencatatkan pendapatan operasional sebesar Rp 2,07 triliun, naik 17,37% dibanding kuartal I 2019 sebesar Rp 1,76 triliun. Peningkatan ini disumbang oleh seluruh pos pendapatan operasional, mulai dari pendapatan komisi hingga penjualan efek-efek.

Meski demikian, sepanjang kuartal I 2020 total beban operasional Bank Permata tercatat sebesar Rp 1,79 triliun, naik 43,21% dibandingkan kuartal I 2019. Peningkatan beban ini membuat laba sebelum pajak penghasilan turun 45,37%.

Peningkatan terbesar pada beban operasional Bank Permata disumbang oleh pos kerugian penurunan nilai aset keuangan, yang tercatat sebesar Rp 621,67 miliar. Jumlah ini meningkat 481,05% dibandingkan kuartal I 2019.

Kinerja Bank Permata makin tertekan adanya lonjakan beban pajak penghasilan, dari Rp 136,92 miliar menjadi Rp 279,2 miliar atau naik 103,91% secara tahunan. Hal ini membuat perseroan hanya mampu membukukan laba bersih sebesar Rp 1,73 miliar, anjlok 99,53% dibandingkan kuartal I 2019.

Dari sisi kesehatan keuangan, likuiditas Bank Permata dilaporkan tetap kuat, dengan pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) sebesar 11,4% secara tahunan. Pertumbuhan DPK utamanya disumbang oleh peningkatan dana murah, yakni giro dan tabungan, sebesar 25,8%.

Kemudian, likuiditas Bank Permata juga dilaporkan masih cukup kuat. Ditunjukkan dari rasio likuiditas, yakni loan to deposit ratio (LDR) di kisaran 79,9%.

Demikian juga dengan pengelolaan kredit, masih berjalan dengan baik. Hal ini terlihat dari rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) gross Bank Permata turun dari 3,8% menjadi 3,2% pada kuartal I 2020.

Sementara, NPL coverage ratio Bank Permata tercatat sebesar 152% pada Maret 2020, meningkat dibandingkan posisi per 31 Desember 2019 yang sebesar 133%.

“Hal ini sejalan dengan upaya Bank Permata memperbaiki kualitas kredit, dengan menerapkan prinsip kehati-hatian dalam penyaluran kredit baru. Ditambah dengan, percepatan penyelesaian kredit bermasalah melalui upaya restrukturisasi dan likuidasi,” kata Ridha.

Sumber : Katadata.co.id

Leave a Reply

Your email address will not be published.

WhatsApp WA only