Setelah akuisisi BELL, pangsa pasar ekspor dan domestik TRIS berimbang

Bisnis tambang terdampak corona, IMA dan APBI akan ajukan insentif royalti dan pajak
May 12, 2020
Akibat Covid-19, laba Bank Permata tergerus hingga 99%
May 12, 2020

JAKARTA. Perusahaan tekstil dan garmen PT Trisula International Tbk (TRIS) membukukan penjualan Rp 1,48 triliun pada tahun 2019. Jumlah ini meningkat 6% dibandingkan penjualan 2018 yang sebesar Rp 1,40 triliun.

Direktur Utama TRIS Santoso Widjojo mengatakan, peningkatan penjualan tahun lalu sejalan dengan selesainya akuisisi PT Trisula Textile Industries Tbk (BELL) oleh TRIS. “Dengan adanya konsolidasi dengan BELL, pangsa pasar TRIS di tahun 2019 berimbang antara penjualan domestik dan ekspor, di mana 51% penjualan di pasar domestik dan 49% lainnya di pasar ekspor,” tutur Santoso dalam keterangan tertulis, Sabtu (9/5).

Secara rinci, penjualan ekspor TRIS pada 2019 tumbuh 3,86% secara year on year (yoy) menjadi Rp 719,79 miliar. Sementara itu, penjualan lokal TRIS meningkat 7,85% secara tahunan menjadi Rp 758,94 miliar.

Sejalan dengan kenaikan penjualan, beban pokok penjualan TRIS pada 2019 tercatat naik 7% yoy menjadi Rp 1,13 triliun. Meskipun begitu, TRIS masih dapat membukukan laba bruto sebesar Rp 348,66 miliar atau tumbuh 2,4% dibandingkan tahun 2018.

Menurut Santoso, pengelolaan biaya yang dilakukan sepanjang tahun 2019 mengakibatkan beban usaha TRIS hanya naik 1,3% yoy menjadi Rp 256,7 miliar. Alhasil, laba usaha meningkat 5,6% yoy menjadi Rp 91,97 miliar.

Kemudian, laba sebelum pajak TRIS juga naik sebesar 14,1% yoy menjadi Rp 63,95 miliar. “Semua pertumbuhan ini merupakan indikasi awal keberhasilan strategi TRIS mengkonsolidasikan bisnis tekstil dan garmen Trisula Group,” ucap Santoso.

Tapi, karena ada beban pajak tangguhan pada tahun 2019 serta efek penyesuaian performa atas laba neto tahun-tahun berjalan yang berasal dari transaksi akuisisi BELL, maka laba neto secara konsolidasi TRIS pada tahun lalu merosot 14,3% yoy menjadi Rp 23,24 miliar. Sementara itu, laba neto tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk anjlok 86,56% yoy, dari Rp 5,92 triliun pada 2018 menjadi Rp 795,75 miliar pada 2019.

Adapun aset TRIS per akhir tahun lalu turun 0,92% yoy menjadi Rp 1,15 triliun. Ini sejalan dengan utang yang berkurang 7,5% yoy menjadi Rp 486,63 miliar dan ekuitas yang meningkat 4,56% yoy menjadi Rp 660,61 miliar.

Sumber: kontan.co.id

Leave a Reply

Your email address will not be published.

WhatsApp WA only