Akibat Covid-19, laba Bank Permata tergerus hingga 99%

Setelah akuisisi BELL, pangsa pasar ekspor dan domestik TRIS berimbang
May 12, 2020
Rencana stimulus PPN terganjal masalah hukum?
May 12, 2020

JAKARTA. Pandemi Covid-19 bikin laba bersih PT Bank Permata Tbk (BNLI) terpangkas dalam. Sepanjang kuartal I-2020, perseroan cuma meraih laba bersih Rp 1,73 miliar, merosot sedalam 99,53% (yoy) dibandingkan laba kuartal I-2019 senilai Rp 377,36 miliar.

Dalam keterangan resminya, perseroan bilang faktor utama tergerusnya laba bersih akibat meningkatnya pencadangan perseroan seiring risiko kredit yang terkerek tinggi akibat pandemi Covid-19. Meningkatnya pencadangan juga akibat implementasi pernyataan standar akuntansi keuangan (PSAK) 71.

“Pandemi COVID-19 telah menyebabkan volatilitas beberapa indikator perekonomian makro, sehingga berdampak pada peningkatan rasio kemungkinan terjadi gagal bayar di masa yang akan datang dan peningkatan cadangan kerugian secara umum, tulis perseroan, Jumat (8/5).

Per Maret 2020, perseroan tercatat telah membentuk pencadangan kredit senilai Rp 5,18 triliun dengan pertumbuhan 30,94% (ytd) dibandingkan akhir tahun lalu senilai Rp 3,95 triliun. Sementara rasio pencadangan juga meningkat dari 133% pada akhir tahun lalu menjadi 152% pada kuartal I-2020.

Selain itu, diakui perseroan kebijkan penurunan Pajak Penghasilan (PPh) Badan dari 25% menjadi 22% juga jadi penyebab. Akibat kebijakan yang berlaku mulai 31 MAret 2020 tersebut, beban pajak tangguhan meningkat Rp 216 miliar.

“Dengan mengecualikan dampak COVID-19 terhadap peningkatan cadangan kerugian penurunan nilai dan dampak penurunan tarif pajak penghasilan badan terhadap penurunan nilai aset pajak tangguhan, laba bersih perseroan setelah normalisasi mengalami sedikit peningkatan dari Rp 377 miliar menjadi Rp 378 miliar,” kalkulasi perseroan.

Sementara itu, kinerja perseroan sejatinya tak buruk-buruk amat. Pendapatan operasional tumbuh 15,5% (yoy) senilai Rp 2,1 triliun. Pertumbuhan ini utamanya ditopang dari pendapatan bunga bersih 15,97% (yoy) senilai Rp 1,53 triliun seiring pertumbuhan kredit yang cenderung moderat sebesar 5,7% (yoy) senilai Rp 106,10 triliun.

Adapun kualitas kredit juga membaik, non peforming loan (NPL) gross perseroan menurun dari 3,8% pada kuartal I-2019 menjadi 3,1% pada kuartal I-2020.

“Pada kuartal pertama, kami terus menerapkan prinsip kehati-hatian dalam kerangka manajemen risiko yang kuat untuk mendukung kebijakan-kebijakan Pemerintah dalam menjaga stabilitas ekonomi Indonesia,” kata Direktur Utama Bank Permata Ridha DM Wirakusumah.

Sedangkan likuiditas perseroan juga tercatat masih kokoh dengan rasio LDR sebesar 79,9%. Hal tersebut terutama ditopang dari pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) 11,4%, (yoy) dan pertumbuhan current account and saving account alias dana murah (CASA) sebesar 25,8% (yoy). Permodalan perseroan juga kokoh dengan capital adequacy ratio (CAR) 19,6%.

“Kemampuan kami dalam mencetak pertumbuhan kredit, dana pihak ketiga terutama dana murah dan pendapatan operasional di tengah kondisi perekonomian yang sulit ini menunjukkan bahwa kami terus memainkan peranan penting dalam mendukung nasabah kami untuk mengelola operasional bisnis serta kebutuhan likuiditasnya dengan baik,” sambung Ridha.

Sumber: kontan.co.id

Leave a Reply

Your email address will not be published.

WhatsApp WA only