Daya Beli Ambruk, Ekonomi Makin Terpuruk

Target Penerimaan Pajak Turun, Alokasi Dana Bagi Hasil Dipangkas
May 12, 2020
Korona Bikin Ditjen Pajak Kesulitan Ekstensifikasi
May 13, 2020

Jakarta, Krisis ekonomi datang lebih awal di Indonesia. Perlambatan pertumbuhan ekonomi yang sebelumnya diprediksi baru akan nampak pada kuartal II dan III tahun 2020 ini ternyata sudah nampak pada kuartal I-2020.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat: pertumbuhan ekonomi kuartal I-2020 hanya 2,97% yoy.  Capaian ekonomi kuartal I ini adalah yang terendah dalam 19 tahun terakhir.

Angka ini jauh dari prediksi Kementerian Keuangan yang yakin ekonomi kuartal I masih akan tumbuh di kisaran 4,5%-4,7%. Jauh pula dari  proyeksi Bank Indonesia masih di kisaran 4,3%-4,6%.

Bahkan beberapa ekonom yang sebelumnya dihubungi KONTAN juga masih memprediksi kuartal I-2020 tumbuh di kisaran 3%-4,2%

Kepala BPS Suhariyanto, Selasa (5/5) mengatakan perlambatan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia tak hanya di Indonesia, tapi juga  dirasakan negara-negara lain, karena terdampak pandemi virus korona (Covid-19).

Salah satu biang kerok perlambatan ekonomi kuartal I adalah  konsumsi rumah tangga yang  ambruk.  BPS mencatat konsumsi masyarakat hanya tumbuh 2,84% yoy. Padahal, periode sama tahun lalu konsumsi rumah tangga masih mampu tumbuh 5,02%.

“Ini karena porsi konsumsi rumah tangga terhadap perekonomian Indonesia sangat besar, maka penurunan pertumbuhannya menggeret pertumbuhan ekonomi ke bawah,” kata Suhariyanto.  

Meski di bawah perkiraan pemerintah, Iskandar Simorangkir Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian mengatakan, capaian  ekonomi ini masih merupakan prestasi. “Bila membandingkan dengan negara-negara lain yang tumbuh negatif, capaian 2,97% ini masih merupakan prestasi,” kata Iskandar.

Ia menyebut, pemerintah sudah memasang kuda-kuda untuk menjaga ekonomi di tengah krisis akibat  Covid-19. Pemerintah juga telah menambah anggaran belanja dan pembiayaan anggaran hingga RP 405,1 triliun untuk insentif penanganan efek Covid-19 terhadap perekonomian. 

Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Febrio Nathan Kacaribu menambahkan, pemerintah akan mempercepat penyaluran bantuan sosial  untuk mencegah merosotnya daya beli masyarakat.

“Penurunan kinerja konsumsi yang tajam di kuartal I-2020 ini sebagai indikasi urgensi percepatan penyaluran bantuan sosial di kuartal II,” kata Febrio. 

Sementara dari sisi produksi, pemerintah akan menyiapkan bantalan dengan program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) untuk UMKM. Program ini akan diluncurkan untuk meringankan tekanan ekonomi bagi pelaku usaha, terutama ultra mikro dan UMKM. 

Masyita Crystallini, Staf Khusus Menteri Keuangan bidang Kebijakan Fiskal dan Makroekonomi bilang, dengan PEN ini, ia berharap ekonomi pada kuartal IV membaik.

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Akhmad Akbar Susamto mengingatkan, salah satu cara mendongkrak daya beli dan konsumsi dengan menurunkan harga bahan bakar minyak (BBM), tarif listrik, dan gas.

Kata dia, BBM dan energi menjadi konsumsi sekaligus komponen terbesar pengeluaran warga miskin. Meski mobilitas masyarakat dibatasi, harga BBM tetap berperan besar dalam mobilitas barang logistik. Ekonom Institut Kebijakan Strategis Universitas Kebangsaan RI Eric Sugandi menambahkan, penurunan harga BBM dan energi akan mendorong tigkat daya beli masyarakat kelas menengah. Kelompok menengah atas inilah yang mendongkrak konsumsi.

Sumber : Harian Kontan

Leave a Reply

Your email address will not be published.

WhatsApp WA only