Ada Covid-19, Rasio Pajak Kembali Turun ke Single Digit

Sri Mulyani Beri Sinyal Perluas Basis Pajak di 2021
May 13, 2020
Sri Mulyani Sebut Rasio Pajak 2021 Akan Turun Jadi 8,25 Persen
May 13, 2020

JAKARTA — Pemerintah memproyeksi tahun depan rasio pajak (tax ratio) Indonesia akan turun dan kembali ke single digit akibat penanganan pandemi Covid-19. Ini tercantum di Kerangka Ekonomi Makro dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) tahun 2021 yang diserahkan pemerintah ke DPR RI.

Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengatakan, kebijakan perpajakan 2021 diarahkan pada pemberian insentif yang lebih tepat sasaran, relaksasi untuk mempercepat pemulihan ekonomi nasional, optimalisasi penerimaan melalui perluasan basis pajak, serta peningkatan pelayanan kepabeanan dan ekstensifikasi barang kena cukai.

Oleh karenanya, dengan adanya kebutuhan untuk mempercepat pemulihan ekonomi melalui tambahan insentif perpajakan (tax expenditure) dan aktivitas ekonomi yang masih dalam proses pemulihan tersebut, maka angka rasio perpajakan akan lebih rendah dari tahun sebelumnya.

“Rasio perpajakan tahun 2021 diperkirakan hanya dalam kisaran 8,25%-8,63% terhadap PDB,” ujarnya di Gedung DPR RI, Selasa (12/5/2020).

Menurutnya, dengan tetap dilakukannya reformasi perpajakan dan pemulihan ekonomi saat ini, maka diharapkan ke depan rasio perpajakan akan kembali meningkat secara bertahap.

Adapun rasio perpajakan tahun depan tersebut merupakan terendah sejak 2010. Dari data Direktorat Jenderal Pajak (DJP) sejak 2010 target dan realisasi rasio pajak selalu ada di angka double digit.

Berikut data realisasi rasio pajak RI sejak 2010:

Pemerintah memproyeksi tahun depan rasio pajak (tax ratio) Indonesia akan turun dan kembali ke single digit akibat penanganan pandemi Covid-19. Ini tercantum di Kerangka Ekonomi Makro dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) tahun 2021 yang diserahkan pemerintah ke DPR RI.

Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengatakan, kebijakan perpajakan 2021 diarahkan pada pemberian insentif yang lebih tepat sasaran, relaksasi untuk mempercepat pemulihan ekonomi nasional, optimalisasi penerimaan melalui perluasan basis pajak, serta peningkatan pelayanan kepabeanan dan ekstensifikasi barang kena cukai.

Oleh karenanya, dengan adanya kebutuhan untuk mempercepat pemulihan ekonomi melalui tambahan insentif perpajakan (tax expenditure) dan aktivitas ekonomi yang masih dalam proses pemulihan tersebut, maka angka rasio perpajakan akan lebih rendah dari tahun sebelumnya.

“Rasio perpajakan tahun 2021 diperkirakan hanya dalam kisaran 8,25%-8,63% terhadap PDB,” ujarnya di Gedung DPR RI, Selasa (12/5/2020).

Menurutnya, dengan tetap dilakukannya reformasi perpajakan dan pemulihan ekonomi saat ini, maka diharapkan ke depan rasio perpajakan akan kembali meningkat secara bertahap.

Adapun rasio perpajakan tahun depan tersebut merupakan terendah sejak 2010. Dari data Direktorat Jenderal Pajak (DJP) sejak 2010 target dan realisasi rasio pajak selalu ada di angka double digit.

Berikut data realisasi rasio pajak RI sejak 2010:

  • 2010 realisasi 12,9%
  • 2011 realisasi 13,8%
  • 2012 realisasi 14%
  • 2013 realisasi 13,6%
  • 2014 realisasi 13,1%
  • 2015 realisasi 11,6%
  • 2016 realisasi 10,8%
  • 2017 realisasi 10,7%
  • 2018 realisasi 11,4%
  • 2019 realisasi 10,73%
  • 2020 target 11,5%
  • 2021 target 8,25%-8,63%

Sumber: CNBCIndonesia.com

Leave a Reply

Your email address will not be published.

WhatsApp WA only