Impor Tertekan, neraca Dagang Surplus

Semua Harus Izin, Kecuali Usaha Mikro
May 19, 2020
Target Serapan Minyak Goreng Curah Kemasan Sederhana Sulit Tercapai
May 19, 2020

JAKARTA. Virus korona (Covid-19) yang menyebar secara masif membuat kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Indonesia semakin meluas. Hal ini cukup menekan permintaan dalam negeri.
Akibatnya, kinerja impor April semakin tertekan di tengah kinerja ekspor yang juga belum mengalami perbaikan. Hal inilah yang diperkirakan masih menjadi pendorong surplus neraca perdagangan Indonesia April 2020.
Ekonom Bank Permata Josua Pardede memproyeksi, nilai impor April turun hingga 27,4% year on year (yoy) dan turun 9,4% month to month (mtm). Penurunan lauju impor ini, cenderung disebabkan oleh penurunan harga minyak dunia dan disertai dengan penurunan aktivitas manufaktur Indonesia. Purchasing Managers index (PMI) Manufaktur Indonesia yang jatuh ke level 27,5 dari sebelumnya berada pada level 45,3.
“Harga minyak dunia pada bulan April mengalami penurunan sebesar 20,4% mtm,” kata Josua kepada KONTAN, Kamis (14/5).
Menurut Josua, dengan menurunnya aktivitas manufaktur maka impor barang modal dan bahan baku juga akan terhambat, sehingga secara keseluruhan impor Indonesia akan mengalami penurunan.
Di sisi lain, Josua juga memproyeksikan kinerja ekspor mengalami penurunan sebesar 2,7% yoy dan 9,4% mtm. Penurunan ekspor tersebut, cenderung diakibatkan oleh menurunnya harga komoditas utama Indonesia disertai oleh perlambatan aktivitas negara partner dagang Indonesia.
Sehingga, neraca perdagangan pada April diperkirakan akan mengalami surplus US$ 660 juta, meski lebih kecil dari bulan sebelumnnya sebesar US$ 743 juta.
Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro juga memperkirakan, nilai impor April akan turun lebih dalam dibanding ekspor. Nilai impor, diperkirakan turun hingga 23,91% yoy dan turun 12,24% mtm.
Sementara nilai ekspor, di perkirakan hanya turun 6,38% yoy dan turun 12,74% mtm. “Ekspor mestinya cukup baik meskipun masih negative growth, karena faktor China import on coal,” kata Andry.
Sehingga, neraca perdagangan April diperkirakan masih akan memcatat surplus US$ 558,9 juta.
Sementara itu, Ekonom Eric Sugandi melihat nilai impor April membaik meski naik tipis sebesar 1,87% mtm menjadi US$ 13,6 miliar. Kenaikan ini sejalan dengan impor barang konsumsi terkait ramadan, termasuk impor oleh pemerintah untuk jaminan pasokan barang.
Sementara itu, kinerja ekspor akan turun tipis sebesar 0,64% mtm menjadi US$ 14 miliar. Penurunan ini sejalan dengan penurunan harga minyak dibulan lalu.
“Tapi, nilai ekspor masih lebih besar daripada impor sehingga trade balance akan surplus US$ 0,4 miliar di April 2020,” kata Eric.
Sumber: Harian Kontan

Leave a Reply

Your email address will not be published.

WhatsApp WA only