JAKARTA — Bank Dunia memproyeksikan bahwa prospek ekonomi global akan mengalami kontraksi, hal ini disebabkan oleh dampak dari pandemi Covid-19 yang hingga sampai saat ini mempengaruhi laju perekonomian global.
Pilarmas Sekuritas mengatakan, Bank Dunia dalam laporan tengah tahunnya memproyeksikan ekonomi global akan mengalami kontraksi. Secara rinci, produk domestik bruto (PDB) global diperkirakan akan menyusut 2,5% di tahun 2020 dan ekonomi negara berkembang akan menurun 2,5%.
Dalam laporannya tersebut, Bank Dunia juga menyampaikan bahwa apabila wabah Covid-19 bertahan lebih lama dari ekspektasi, maka membutuhkan kelanjutan pembatasan pergerakan dan menyebabkan ekonomi global berpotensi terkoreksi hampi 8% tahun ini.
“Kemudian, jika langkah-langkah pengendalian pergerakan manusia dapat dicabut dalam waktu dekat, maka kontraksi berpotensi menjadi 4%,” ujar Pilarmas Sekuritas dalam riset harian di Jakarta, Rabu (10/6).
Lebih lanjut, ekonomi Asia Pasifik diperkirakan tumbuh 5,8% sebelum muncul wabah Covid-19.Pertumbuhan kawasan Asia Timur dan Pasifik, di luar Tiongkok, pada 2020 diproyeksikan melambat dari 4,7% pada 2019 menjadi 1,3% dalam skenario baseline dan negatif 2,9% dalam skenario lebih rendah, serta diproyeksikan membaik secara bertahap pada tahun 2021 karena efek virus mulai menghilang.
Sementara itu, pertumbuhan ekonomi di negara berkembang Asia Timur dan Pasifik pada 2020 diproyeksikan akan melambat menjadi 2,1% untuk skenario baseline dan negatif 0,5% dalam skenario lebih rendah.
Pilarmas Sekuritas menilai, perlambatan pertumbuhan ekonomi terjadi karena kebijakan karantina wilayah atau lockdown untuk mencegah penyebaran virus corona secara masif. Penerapan lockdown, yang pertama kali dilakukan Tiongkok dan menyebar ke berbagai negara, menyebabkan kontraksi tajam pada aktivitas ekonomi serta mengubah pasar keuangan global secara drastis.
Dari dalam negeri, batu bara diproyeksikan akan kembali menghadapi tantangan yang cukup berat, hal ini seiring dengan serapan batu bara domestik yang diprediksi lebih lemah daripada perkiraan pasar dan menurunnya harga.
Berdasarkan data Kementrian ESDM pada bulan Juni 2020, harga batu bara acuan (HBA) ke level terendah sejak 2016 yakni berada di angka US$ 52,98 per ton, namun jika mengacu pada data sepanjang tahun 2019 HBA berada di angka US$ 77,89 per ton.
Sejak Januari 2020 HBA mengalami fluktuasi, yang mana pada awal bulan ini HBA tercatat di angka US$ 65,93 per ton, turun dari US$ 66,30 per ton di Desember 2019. Kemudian naik di Februari US$ 66,89 per ton dan Maret sebesar US$ 67,08 per ton. HBA kembali mengalami penurunan di April yang mencapai US$ 65,77 per ton dan sebesar US$ 61,11 per ton pada bulan Mei.
Sumber : Investor.id

WA only
Leave a Reply