JAKARTA. Penerimaan pajak sepanjang semester I-2020 turun 12%. Hasil ini lebih buruk dibandingkan dengan realisasi periode yang sama tahun.
Dari data Kementerian Keuangan (Kemkeu) sepanjang semester I-2020 penerimaan pajak mencapai Rp 531,8 triliun atau terkoreksi 12% year on year (yoy) dari periode serupa tahun lalu yang mencapai Rp 604,3 triliun. Adapun, realisasi penerimaan pajak semester I 2020 sudah mencapai 44,3% dari target penerimaan akhir tahun 2020 sebesar Rp 1.198,3 triliun.
Saban bulan, penerimaan pajak di periode tersebut tidak pernah tumbuh. Pada Juni lalu misalnya, pendapatan pajak hanya Rp 87,2 triliun, atau kontraksi 0,17% yoy atau lebih rendah dari pada Juni tahun lalu sebesar Rp 105,8 triliun.
Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengatakan ada empat penyebab penerimaan pajak di semester I-2020 kontraksi. Pertama, tekanan aktivitas usaha akibat pembatasan sosial pada kondisi pandemi Covid-19 berdampak pada kontraksi penerimaan pajak.
“Kedua, dampak perlambatan ekonomi dan pemanfaatan insentif pajak terlihat pada pertumbuhan negatif pada hampir seluruh jenis penerimaan pajak,” ujar Menkeu di Badan Anggaran (Banggar) DPR RI, Kamis (9/1).
Ketiga, kontraksi juga terlihat pada setoran pajak dari sektor utama perekonomian sebagai dampak perlambatan ekonomi dan turunnya harga komoditas.
Keempat, insentif fiskal Covid-19 dalam rangka program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) yang mulai dimanfaatkan dan juga adanya restitusi pajak yang dipercepat turut memengaruhi rendahnya penerimaan pajak pada semester I-2020.
Insentif yang dimasukan dalam anggaran dukungan usaha di program PEN itu telah sampai dengan 20 Juni 2020. Penyerapan itum baru 10% dari total anggaran insentif pajak senilai Rp 120,6 triliun.
Pengamat pajak DDTC Darussalam tidak yakin target penerimaan pajak tahun ini bisa tercapai setelah melihat hasil di paruh pertama tahun ini. Apalagi upaya perbaikan ekonomi lewat insentif masih terus berlangsung sampai akhir tahun ini.
Meski begitu, ia melihat ada bidang usaha yang mulai menunjukkan kinerja dan bisa jadi penopang penerimaan pajak di akhir tahun ini yakni industri pengolahan dan pergudangan. “Walaupun saat ini masih bertumbuh negatif, kedua sektor tersebut memperlihatkan perbaikan,” ucap Darussalam.
Pengamat Pajak CITA Fajry Akbar memproyeksi pendapatan pajak negara di semester kedua bakal tumbuh akibat keran ekonomi sudah dibuka dan berujung ke PPN dan PPh naik. “Mal sudah dibuka, tempat rekreasi sudah dibuka, bahkan bioskop akan dibuka,” katanya Kamis (9/7).
Sumber: Harian Kontan

WA only
Leave a Reply