Tekanan terhadap nilai tukar rupiah semakin menguat dalam beberapa waktu terakhir. Kondisi ini dinilai membawa implikasi terhadap pengelolaan anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) hingga stabilitas ekonomi secara keseluruhan.
Pada penutupan perdagangan Rabu (14/1), kurs rupiah di pasar spot menguat Rp 12 atau 0,07% menjadi Rp 16.865 per dolar Amerika Serikat (AS). Penguatan kurs rupiah ini menghentikan pelemahan yang terjadi delapan hari perdagangan beruntun.
Namun, nilai tukar rupiah masih melemah dibanding asumsi dalam APBN 2026 yang rata-ratanya dipatok di Rp 16.500 per dolar AS.
Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menjelaskan, komponen yang paling sensitif terhadap pelemahan rupiah adalah subsidi energi.
Pelemahan rupiah juga berpotensi meningkatkan pembayaran bunga dan cicilan pokok utang.
Mengacu pada sensitivitas Rancangan APBN 2026, setiap pelemahan nilai tukar sebesar Rp 100 per dolar AS diperkirakan akan menaikkan pendapatan negara sekitar Rp 5,3 triliun. Namun demikian, belanja negara juga meningkat sekitar Rp 6,1 triliun.
Walhasil, defisit APBN berpotensi melebar sekitar Rp 0,8 triliun setiap kali rupiah melemah Rp 100, dengan asumsi faktor lain tetap.
Deviasi kurs rata-rata di 2026 berjalan hingga 14 Januari di kisaran Rp 16.794 per dolar AS, atau sekitar 294 poin di atas asumsi APBN 2026.
Jadi, Josua memperkirakan secara indikatif pendapatan negara berpotensi naik Rp 15,6 triliun. Sementara belanja negara diperkirakan naik Rp 17,9 triliun, sehingga, defisit berpotensi melebar sekitar Rp 2,4 triliun.
Menurut Josua, yang lebih penting saat ini adalah memastikan bantalan fiskal dan fleksibilitas pelaksanaan anggaran berjalan optimal. Mulai dari penajaman sasaran subsidi, menjaga strategi pembiayaan utang, serta memantau dampak pelemahan kurs terhadap impor, inflasi, dan kebutuhan perlindungan sosial.
Segera Menguat
Ekonom Universitas Paramadina Wijayanto Sarimin mewanti-wanti, pelemahan rupiah terus menerus akan menyebabkan lonjakan harga barang impor dan mengerek imported inflation. Ia khawatir kindisi ini akan semakin menekan daya beli masyarakat yang masih lemah.
Selain itu, kepercayaan investor kepada ekonomi Indonesia akan semakin rendah. Alhasil, investasi akan sulit masuk dan capital outflow semakin deras.
Namun ia optimis, depresiasi rupiah masih wajar “Asalkan pemerintah benar-benar menerapkan disiolin fiskal dan BI menjaga independensi serta kebijakan moneternya,” kata Wijayanto.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa meminta masyarakat tidak panik. la optimistis fondasi ekonomi Indonesia akan terus membaik sehingga tidak ada alasan bagi pelaku pasar untuk khawatir terhadap rupiah.
Purbaya menyebut, arus modal asing juga kembali masuk ke dalam negeri. Ini terutama terlihat di pasar modal. Bahkan, “Rupiah akan segera menguat daları waktu dua minggu ke depan,” tandas Purbaya, kemarin.
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia (BI) Erwin G. Hutapea mengatakan, pihaknya secara konsistensi melakukan stabilisasi.
Ini dilakukan baik melalui intervensi non deliverable forward (NDF) maupun intervensi di pasar domestik melalui transaksi spot, domestic non deliverable forward (DNDF), dan pembelian surat berharga negara (SBN) di pasar sekunder. “BI akan terus berada di pasar untuk memastikan nilai tukar rupiah bergerak sesuai dengan nilai fundamental,” kata Erwin.
Sumber : Harian Kontan, Kamis, 15 Januari 2026, Hal 2.

WA only
Leave a Reply