Meski Pajak Moncer, Fiskal Berisiko Tertekan

Meski penerimaan pajak diklaim tumbuh 30 % namun capaian itu tidak sampai 5% dari target.

JAKARTA. Realisasi peneri- maan pajak awal tahun ini moncer.. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa meng- klaim, setoran pajak awal tahun ini tumbuh mencapai 30% dibanding periode yang sama pada tahun lalu.
“Angka yang baru kita terima tadi, pajak Januari neto tumbuh 30% dibanding tahun lalu Januari,” ujar Purbaya, Selasa (3/2). Sayang, ia tak memperinci realisasi per jenis penerimaan pajak.

Berdasarkan catatan KONTAN, realisasi penerimaan pajak Januari 2025 hanya sebesar Rp 88,89 triliun. Jika klaim Purbaya benar maka realisasi penerimaan pajak Januari 2026 berhasil terkum- pul Rp 115,56 triliun. Meskipun, angka itu baru setara

4,9% dari target tahun ini yang sebesar Rp 2.357,7 triliun. Pertumbuhan penerimaan pajak tersebut, tergolong ting- gi. Jika merujuk data penerimaan pajak khusus bulan Januari selama lima tahun ter- akhir, pertumbuhan tertinggi terjadi pada Januari 2022 yang saat itu tumbuh 59,39% secara tahunan menjadi Rp 109,1 triliun. Pada Januari 2023, penerimaan pajak juga tumbuh tinggi mencapai 48,60% menjadi Rp 162,23 triliun.

Purbaya mengatakan, melonjaknya pertumbuhan pene- rimaan pajak tersebut menjadi tanda bahwa aktivitas perekonomian Indonesia mulai membaik. “Jadi bagus keadaannya, ekonominya lebih bagus,” kata Purbaya. Direktur Strategi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara, Direktorat Jenderal (Ditjen) Strategi Ekonomi dan Fiskal Kemkeu Wahyu Utomo menjamin arus kas (cashflow) negara tetap dalam posisi aman. Walaupun, pos belanja prioritas seperti program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan subsidi energi mulai dikucurkan secara masif.

“Hingga saat ini cashflow tetap aman, belanja yang diperkirakan cukup besar misalnya MBG yang sudah men- capai 60 juta penerima, pembayaran subsidi dan kompensasi, perlindungan sosial, mulai belanja di KL, dan lainnya,” ujar Wahyu kepada KONTAN, kemarin.

Bunga utang naik

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Yusuf Rendy Manilet mewanti-wanti adanya tantangan nyata di awal tahun, berupa kebutůhan anggaran yang agresif namun tidak dibarengi dengan penerimaan yang kuat.

Yusuf menilai situasi ini bisa semakin menantang jika pemerintah memutuskan untuk mengucurkan stimulus secara besar-besaran di awal periode demi memacu ekonomi. Menurutnya, tanpa manajemen pembiayaan yang rapi, celah antara uang masuk dan uang keluar bisa melebar.

“Ketika penerimaan belum kuat, celah ini membuat kebutuhan pembiayaan dan penarikan saldo kas menjadi lebih besar sehingga pemerintah berpotensi lebih sering masuk ke pasar surat utang atau me- naik simpanannya,” tambah Josua kepada KONTAN.

Ia menjelaskan, jika langkah tersebut dilakukan saat senti- men pasar sedang rapuh, imbal hasil surat utang negara (SUN) dapat mengalami kenaikan. Dampaknya, biaya bunga pemerintah membesar dan ruang fiskal untuk belanja produktif akan sempit.

Sumber : Harian Kontan, halaman 2 . Rabu, 04 Februari 2026.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp WA only