Pemerintah memasang sejumlah target makro dalam RAPBN 2027. Rupiah ditargetkan Rp17.500 per do-lar AS, sedang yield SUN 10 tahun sebesar 6,9%.
Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede menilai, asumsi rupiah ini cukup kredibel, meski sedikit optimistis. Sementara target yield Surat Berharga Negara (SBN) 10 tahun 6,9% relatif lebih agresif.
Menurut dia, target rupiah bisa tercapai dengan syarat tekanan harga minyak mereda. dan arus modal kembali membaik. “Lalu, Bank Indonesia (BI) mempertahankan kredibilitas stabilisasi nilai tukar dan defisit transaksi berjalan tidak melebar berlebihan,” ujar Josua, Sabtu (15/8).
Pada Senin (17/8), rupiah berada di level Rp 17.7898 per dolar AS, sedangkan yield SBN 10 tahun sekitar 7,18%. Artinya, target yield SBN membutuhkan penurunan sekitar 28 basis poin dari posisi pasar tersebut.
Menurut rut Josua, tantangan utama berasal dari pasar global. Yield US Treasury (UST) 10 tahun berada sekitar 4,68%, dengan tekanan dari inflasi, besarnya defisit fiskal Amerika Serikat (AS) dan tingginya pasokan obligasi.
Karena itu, target yield SBN 10 tahun 6,9% bukan mustahil dicapai, tetapi membutuhkan penurunan premi risiko dan kondisi global yang lebih bersahabat. Target ini dinilai lebih mungkin tercapai pada semester II-2027 jika suku bunga global mulai stabil, har ga minyak turun dan risiko fiskal Indonesia mereda.
Josua memprediksi, rupiah berada di kisaran Rp17.400-Rp 17.600 per dolar AS pada 2027. Sedangkan yield SUN 10 tahun diprediksi berada di kisaran 7,10%-7,30%.
Ekonom Universitas Andalas Syafruddin Karimi juga menilai, asumsi pemerintah masih memungkinkan tercapai, terutama jika dilihat sebagai rata-rata tahunan. Menurut dia, jarak antara posisi pasar saat ini dan target pemerintah masih relatif dekat, tapi membutuhkan perbaikan kondisi pasar yang konsisten.
Menurutnya, target yield SBN akan lebih realistis apabila tekanan dolar AS mereda, yield UST turun, inflasi kembali mendekati sasaran, cadangan devisa terjaga dan arus portofolio asing berlanjut. Stabilitas rupiah juga menjadi faktor penting karena dapat menurunkan premi risiko nilai tukar dan membuka ruang penurunan yield SBN.
Sementara itu, Guru Besar Universitas Airlangga, Rahma Gafmi menilai, untuk mencapai target ini, pemerintah membutuhkan pelonggaran moneter yang cukup agresif. Selain itu, premi risiko Indonesia harus semakin rendah dan pasar perlu semakin yakin terhadap disiplin fiskal pemerintah, termasuk target defisit 2,40% terhadap PDB.
Di sisi lain, target pertumbuhan ekonomi 6% dinilai cukup ambisius. Pasalnya, masih ada risiko perlambatan ekonomi global dan daya beli kelas menengah yang tertahan.
Tanpa pemulihan konsumsi rumah tangga yang masif dan akselerasi hilirisasi yang lang-sung berdampak ke pencipta an lapangan kerja berkualitas, Rahma menilai target 6% berisiko menjadi angka atas (up-per bound) yang berat dicapai secara murni.
Sumber: Harian Kontan, Selasa 18 Agustus 2026 Hal 2
WA only
Leave a Reply