Kali Pertama Target Investasi Meleset

BKPM memperkirakan tren investasi sektor digital khususnya e-commerce yang menambah modal, bakal mendominasi tahun ini.

JAKARTA. Tren pelambatan investasi yang berlangsung sejak kuartal II 2018 terhenti. Namun, kegiatan investasi pada periode akhir 2018 masih belum memuaskan. Untuk pertama kali, target investasi gagal tercapai.

Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mengumumkan realisasi investasi pada kuartal IV 2018, sebesar Rp 158,9 triliun, tertinggi dibanding kuartal sebelumya. Pencapaian ini naik 6,96% dibandingkan kuartal III 2018, sekaligus menghentikan tren perlambatan investasi yang terjadi sejak kuartal II 2018.

Secara keseluruhan tahun 2018, jumlah penanaman modal Rp 721,3 triliun, hanya naik 4,11% dibandingkan dengan 2017. Pencapaian ini hanya 94,3% dari target.

BKPM mengklaim selama ini selalu berhasil melewati target investasi. Tahun 2017 misalnya, realisasi penanaman modal mencapai Rp 692,8 triliun dari target sebesar Rp 678,8 triliun. Lalu pada tahun 2016,  realisasi penanaman modal Rp 612,8 triliun, 3% di atas target Rp 594,8 triliun.

“Realisasi tahun 2018 ini merupakan cerminan dari upaya tahun sebelumnya. Kurangnya eksekusi, implementasi kebijakan, pada tahun 2017 sehingga berimbas pada perlambatan investasi,” jelas Kepala BKPM, Thomas Trikasih Lembong dalam konferensi pers di kantor BKPM, Rabu (30/01).

Investasi semakin tersendat karena hambatan dari faktor eksternal. Sepanjang 2018 lalu, perekonomian negara-negara berkembang atau emerging market, termasuk Indonesia tertekan karena kenaikan suku bunga di Amerika Serikat (AS) dan Eropa. Investor mengalihkan dananya ke negara maju, dibandingkan emerging market.

Lalu, transisi perizinan ke sistem online single submission (OSS) yang berjalan lambat dan telat, juga ikut menghambat investasi. OSS baru terlaksana awal kuartal IV 2018 dan mulai dialihkan ke BKPM sejak 1 Januari 2019.

Kebijakan pemberian insentif untuk pengusaha juga datang terlambat. Perluasan dan pelonggaran tax holiday baru terbit pada November 2018.

Efek pemilu

Namun, Thomas menganalisa laju investasi cepat pada tahun ini. Ini terindikasi dari peningkaatan peneneman modal asing (PMA) pada kuartal IV 2018. Sejak kuartal II 2018, PMS lesu.

Realisasi investasi selama tahun 2018 didominasi oleh sektor infrastruktur seperti pembangkit listrik, jalan tol, dan telekomunikasi. Perkembangan industri telekomunikasi mendukung industri yang berbasis teknologi digital dan beberapa start up lain yang dikategorikan unicorns.

Sebagara gambaran, BKPM menargetkan relisasi investasi tahun ini Rp792,3 triliun, tumbuh 9,84% dari tahun 2018. Thomas memperkirakan investasi terbesar masuk di industri e-commerce yang menggenjot modal mereka.

Maraknya industri e-commece akan berdampak multi investasi yang besar terutama ke sektor property dan real estate. “Mereka (e-commerce) pasti mau memperluas bisnis menambah karyawannya, otomatis mereka butuh kantorkan,” tambah Thomas.

Keyakinan BKPM juga didukung oleh tren investasi pada tahun politik yang selalu meningkat. Menjelang Pemilu 2014, investasi tumbuh lambat, tapi pasca coblosan, investor berbondong-bondong tanam modal.

“Kalau kami melihat 15 tahun terakhir sebelum pemilu tren investasi akan melambat dan setelahnya akan membaik,” terang Thomas.

Tapi optimisme Thomas Lembong berbanding terbalik dengan pendapatan Wakil Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) bidang hubugan internasional, Shinta Kamdani Shinta memperkirakan investasi tahun ini masih akan sulit tumbuh kencang. Sebab kondisi ekonomi global khususnya perang dagang antara China dan Amerika Serikat menyurutkan pengusaha global mengembangkan bisnis.

Apalagi, Maret 2019 ini akan ada periode penyelesaian gencatan senjata antara China dan AS. Bila tidak ada kesepakatan, volatilitas ekonomi dunia akan semakin tinggi. Tak hanya itu, proses keluarnya inggris dari Uni Eropa (Brexit) yang berjalan lambat dan konflik Venzuela bisa mempengaruhi harga minyak.

“Tren investasi memang melambat. Selain karena faktor global dan politik dimana kita sedang bersiap pemilihan presiden,” tutur Shinta.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi Sukamdani sependapat, tahun ini belum menjadi periode tapi untuk tanam modal. Hariyadi menyarankan supaya pemerintah fokus menjaga investor yang ada, sehingga investasi sudah masuk tidak pergi lagi. “Jangan sampai mereka tidak puas, kalau mereka tidak puas mereka akan bicara ke dunia,” terang Hariyadi.

BKPM pun harus mendengarkan keluhan-keluhan yang disampaikan olehinvestasi. Tak hanya menampung keluhannya, berbagai kendala pun harus diselesaikan.

Sumber : Harian Kontan

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp WA only