Di balik melejitnya angka pertumbuhan ekonomi pada tiga bulan pertama tahun ini, kondisi anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) justru lampu kuning bagi pemerintah. Pasalnya, berdasarkan data yang dirangkum Institute for Development of Economics and Finance (Indef), baik defisit anggaran maupun defisit keseimbangan primer pada kuartal I-2026, merupakan yang terlebar dibanding masa sebelum pandemi Covid-19. Defisit fiskal terjadi saat belanja lebih besar dibanding pendapatan. Hal ini lumrah selama defisit masih di bawah batas aman 3% dari produk domestik bruto (PDB). Namun, desifit keseimbangan primer menandakan pemerintah tak memiliki sisa uang untuk membayar bunga utang. Artinya, pemerintah harus menambah utang baru hanya untuk menutup lubang bunga utang lama. Jumbonya defisit keseimbangan primer menurut Indef, menjadi sentimen negatif. Sebab, kepercayaan investor bisa menurun, nilai tukar rupiah bisa tertekan, dan alokasi dana untuk kebutuhan rakyat baik subsidi maupun pembangunan sektor riil, semakin terbatas.
Sumber : Harian Kontan, Sabtu, 16 Mei 2026, Hal 2.

WA only
Leave a Reply