Ketahanan Fiskal Masih Jadi Momok, Rupiah Terperosok

JAKARTA. Pergerakan rupiah semakin liar. Kemarin (5/5), nilai tukar rupiah kembali ke level terburuk sepanjang sejarah, di Rp 17.448 per dolar Amerika Serikat (AS) di pasar spot. Rupiah ditutup melemah 0,17% secara harian di Rp 17.424 per dolar AS. Rupiah telah terdepresiasi 5,8% secara tahunan (yoy).

Tak hanya terhadap dolar AS, rupiah juga tak berdaya terhadap sejumlah mata uang kawasan. Mata uang Garuda melemah 12,28% yoy terhadap ringgit Malaysia (MYR) ke level 4.397,94. Terhadap dolar Singapura (SGD), rupiah turun 7,2% yoy ke 13.644,74. (lihat infografis)

Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Rizal Taufikurahman menilai, kondisi ini mencerminkan peran signifikan faktor domestik.

“Apabila pelemahan semata dipicu faktor global, pergerakan mata uang di kawasan seharusnya relatif seragam. Namun rupiah justru melemah lebih dalam.”

Berdasarkan data Bloomberg, sejak awal 2026, rupiah menjadi mata uang berkinerja terburuk kedua setelah India, dengan penurunan sebesar 4,27% terhadap dolar AS. Sementara SGD dan MYR mampu menguat terhadap dolar AS.

“Ada repricing risiko terhadap Indonesia, terutama terkait ketahanan fiskal, ketergantungan impor energi, serta persepsi pasar terhadap arah kebijakan ekonomi ke depan,” ujar Rizal, Selasa (5/5).

Pengamat Pasar Modal Universitas Indonesia (UI), Budi Frensidy menilai, fundamental rupiah semestinya tidak serendah saat ini. Dengan surplus dagang yang masih ada dan cadangan devisa relatif memadai, nilai wajar rupiah di sekitar 16.900–17.000 per dolar AS.

“Jadi level rupiah hingga menembus 17.400 sudah mengandung unsur risk premium dan kepanikan pasar,” ujar Budi.

Sebagai negara net importir minyak, Indonesia rentan terhadap lonjakan harga energi. Kondisi ini berpotensi menekan neraca transaksi berjalan, mendorong inflasi, serta meningkatkan beban subsidi energi.

Selain itu, foreign outflow dan meningkatnya kekhawatiran terhadap kondisi fiskal domestik turut memperparah tekanan terhadap rupiah.

Presiden Komisaris HFX International Berjangka, Sutopo Widodo melihat, terjadi rotasi modal besar-besaran menuju aset safe haven seperti dolar AS serta diperparah lonjakan imbal hasil US Treasury yang menyentuh 4,45%. Selisih suku bunga yang menyempit, membuat surat utang Indonesia kurang menarik.

Jika eskalasi melebar dan arus logistik minyak dunia terhenti, skenario terburuk rupiah menguji level psikologis 17.800–18.000 per dolar AS. Pada level tersebut, risiko fundamental bergeser menjadi risiko sistemik yang dapat memicu kepanikan di pasar modal domestik. Perlu solusi fiskal dan moneter yang tepat guna mengembalikan kepercayaan pasar.

Sumber: Harian Kontan, Rabu 6 Mei 2026, Halaman 1.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp WA only