Wakil Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR Wihadi Wiyanto berkeyakinan pertumbuhan penerimaan pajak bakal terjaga hingga akhir tahun.
Menurut Wihadi, pertumbuhan penerimaan pajak akan didorong oleh kenaikan harga minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO), nikel, dan tembaga, serta didukung oleh pengawasan yang dilakukan oleh PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) selaku BUMN ekspor.
“Penerimaan dalam hal komoditas ini memang menjadi tulang punggung atau menjadi penerimaan kita. Dan saat ini pemerintah juga sudah melakukan penguatan dengan membentuk DSI, di mana untuk batu bara dan sawit itu semua penerimaan pajaknya melalui Danantara,” ujar Wihadi, dikutip Rabu (8/7/2026).
Wihadi mengatakan pembentukan DSI memperkuat pengawasan pemerintah atas potensi penerimaan dari sektor komoditas. Dengan DSI, pemerintah bisa menekan kebocoran devisa hasil ekspor (DHE) dan penerimaan negara dari komoditas.
“Kita melihat bahwa outflow itu pasti akan kita tekan dan kita hilangkan dalam masalah resources ini. Tentunya penerimaan ini akan bertambah. Jadi kita yakin bahwa penerimaan-penerimaan dalam resources itu tetap akan menjadi penerimaan yang sustainable,” ujar Wihadi.
Sebagai informasi, realisasi penerimaan pajak pada semester I/2026 tercatat mencapai Rp1.035,7 triliun atau tumbuh 24,6% bila dibandingkan dengan capaian pada semester I/2025.
Meski bertumbuh pesat, realisasi dimaksud baru 43,9% dari target penerimaan pajak pada APBN 2026 yang senilai Rp2.357,7 triliun.
Pemerintah memperkirakan penerimaan pajak pada tahun ini akan mencapai Rp2.310,8 triliun dengan shortfall senilai Rp46,9 triliun. Agar tidak timbul shortfall, pemerintah perlu menjaga pertumbuhan penerimaan pajak pada level 23%.
“Mudah-mudahan kita bisa tahan di 23% penerimaan pajaknya sehingga income kita akan lebih baik. Saya yakin dengan efisiensi pegawai pajak, perbaikan coretax, dan perbaikan prosedur, kita bisa mencapai itu tanpa menaikkan tarif pajak,” ujar Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa.
Sumber : DDTC

WA only
Leave a Reply