PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI Group menyetor pajak dan penerimaan negara senilai Rp6,98 triliun sepanjang 2025, meningkat 66,05 persen dibandingkan kontribusi sebesar Rp4,20 triliun pada 2024. Kenaikan tersebut mencerminkan meningkatnya aktivitas bisnis perusahaan beserta seluruh entitas anak yang berkontribusi terhadap penerimaan negara dan daerah.
Kontribusi Rp6,98 triliun tersebut berasal dari berbagai komponen, meliputi Pajak Penghasilan (PPh), Pajak Pertambahan Nilai (PPN), Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), pajak daerah, serta Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP).
Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan, besarnya kontribusi tersebut merupakan hasil dari aktivitas ekonomi yang tercipta melalui operasional KAI Group, mulai dari layanan angkutan penumpang dan barang hingga berbagai bisnis pendukung yang dijalankan perusahaan.
“Di balik perjalanan pelanggan, distribusi barang, aktivitas usaha di stasiun, dan berbagai layanan KAI Group, terdapat nilai ekonomi yang ikut menghasilkan penerimaan bagi negara. Kontribusi tersebut selanjutnya dikelola pemerintah untuk mendukung pelayanan publik dan pembangunan,” ujar Anne dalam keterangan tertulis, dikutip Senin (27/7/2026).
Dari total kontribusi tersebut, KAI sebagai entitas induk menyumbang Rp6,19 triliun, sedangkan seluruh entitas anak berkontribusi Rp795,89 miliar.
Berdasarkan jenis penerimaannya, kontribusi terbesar berasal dari Pajak Penghasilan sebesar Rp3,05 triliun, disusul PNBP Rp2,27 triliun, serta PPN Rp1,47 triliun. Selain itu, KAI Group membayar PBB sebesar Rp113,96 miliar.
Sementara itu, aktivitas entitas anak juga menghasilkan penerimaan bagi pemerintah daerah melalui pajak restoran sebesar Rp28,66 miliar, pajak hotel Rp456,90 juta, serta pajak daerah lainnya Rp47,84 miliar.
Anne menegaskan, pertumbuhan kontribusi fiskal tersebut tidak hanya mencerminkan kinerja perusahaan, tetapi juga menunjukkan besarnya efek berganda (multiplier effect) yang dihasilkan ekosistem bisnis KAI Group.
Menurutnya, aktivitas operasional perusahaan melibatkan ribuan pekerja, mitra usaha, pemasok, pelaku UMKM, hingga masyarakat di sekitar stasiun dan jalur kereta api yang secara bersama-sama menciptakan nilai ekonomi.
“Di balik kontribusi Rp6,98 triliun tersebut terdapat aktivitas ekonomi yang digerakkan oleh para pekerja, pelanggan, mitra usaha, dan seluruh entitas KAI Group. Setiap bagian memiliki peran dalam membentuk nilai yang kemudian menjadi penerimaan bagi negara dan daerah,” katanya.
Ia menambahkan, keberadaan layanan kereta api turut mendorong perputaran ekonomi di berbagai wilayah melalui meningkatnya mobilitas masyarakat, aktivitas perdagangan, serta peluang usaha di sekitar kawasan transportasi.
“Penerimaan tersebut menjadi bagian dari ruang fiskal pemerintah yang dapat dimanfaatkan untuk membiayai pelayanan publik dan berbagai program pembangunan,” ujar Anne.
Sumber : kabarbisnis.com

WA only
Leave a Reply