Ekonom Core anggap perbaikan CAD bisa memperkuat otot rupiah

JAKARTA. Nilai tukar rupiah masih terus melemah terhadap dollar Amerika Serikat. Menurut Bank Indonesia, sejak awal tahun hingga 22 Oktober 2018, depresiasi rupiah terhadap dollar AS mencapai 10,65%.

Direktur Riset Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Pieter Abdullah Redjalam berpendapat, langkah utama yang harus dilakukan untuk memperkuat rupiah ini adalah memperkuat fundamental ekonomi, khususnya memperbaiki defisit transaksi berjalan (CAD).

Menurut Pieter, pemerintah sudah melakukan berbagai kebijakan yang dianggap bisa memperbaiki CAD. Kebijakan tersebut seperti mewajibkan penggunaan B20, menaikkan PPh konsumsi impor. Bahkan, pemerintah sudah menunda beberapa proyek strategis nasional yang bertujuan mengurangi impor.

BI pun sudah menaikkan suku bunga acuan sebesar 150 basis poin sejak Mei 2018. Namun menurut Pieter, kebijakan suku bunga BI lebih ditujukan untuk menjaga arus modal keluar yang bila dibiarkan akan menekan rupiah. “Seiring dengan The Fed yang diperkirakan masih akan menaikkan suku bunga. BI juga diyakini masih akan terus menaikkan suku bunga,” tutur Pieter kepada Kontan.co.id, Selasa (23/10).

Sementara itu, Pieter pun menjelaskan, pelemahan rupiah yang terjadi sejak awal tahun disebabkan dua faktor utama. Mulai dari tekanan eksternal dan rapuhnya ekonomi domestik.

Tekanan eksternal dipicu oleh beberapa hal. Beberapa di antaranya adalah kenaikan suku bungaThe Fed yang memicu perpindahan modal asing, ketidakpastian yang disebabkan potensi krisis di Argentina dan Turki, serta semakin intensnya perang dagang AS dengan partner dagang utamanya, khususnya China.

Rapuhnya perekonomian domestik, yang ditunjukkan oleh melebarnya CAD menjadi faktor yang memperburuk tekanan eksternal tadi. “Kedua faktor ini kemudian memicu sentimen negatif yang semakin memperburuk rupiah,” jelas Pieter.

Sumber Kontan

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp WA only