Melesat 1,47%, IHSG Masih Kokoh di Puncak Klasemen

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 1,47% pada akhir sesi I ke level 6.079,18. Posisi ini jauh lebih tinggi dibandingkan posisi saat pembukaan perdagangan di level 6.030,74 (+0,66%) dibandingkan posisi penutupan hari Rabu, 28/11/2018).

Pergerakan IHSG senada dengan indeks saham lainnya di kawasan Asia yang juga menghijau. Tapi tetap saja, penguatan IHSG masih merupakan yang terbaik. IHSG sudah menempati posisi puncak klasemen sejak pagi hari tadi.

Indeks Nikkei naik 0,63% hingga siang hari, indeks Shanghai naik 0,28%, indeks Strait Times naik 0,82%, indeks Kospi naik 0,45%, indeks KLCI (Malaysia) naik 0,88%, indeks PSEi (Filipina) naik 1,22%, indeks SET (Thailand) naik 0,51%, dan indeks Nifty 50 (India) naik 0,79%.

Nilai transaksi tercatat sebesar Rp 5,2 triliun dengan volume sebanyak 5,6 miliar unit saham. Frekuensi perdagangan adalah 299.068 kali.

Ada 2 sentimen utama yang memotori penguatan bursa saham Benua Kuning pada hari ini. Pertama, optimisme terkait kesepakatan dagang antara AS dengan China. Penasihat Ekonomi Gedung Putih Larry Kudlow menyatakan bahwa ada kemungkinan Washington dan Beijing akan mencapai kesepakatan yang signifikan kala Presiden AS Donald Trump bertemu Presiden China Xi Jinping di sela-sela KTT G-20 pada akhir bulan ini.

“Ada kemungkinan yang cukup besar kami akan mencapai kesepakatan. Beliau (Trump) terbuka untuk itu,” kata Kudlow, mengutip Reuters.

Sebelumnya, Trump sempat mengatakan bahwa dirinya sudah bersiap-siap untuk mengenakan bea masuk baru bagi US$ 267 miliar produk China lainnya jika pertemuan dengan Presiden Xi tak membuahkan kesepakatan, seperti dikutip dari Bloomberg yang melansir publikasi Wall Street Journal. Menurut Trump, besaran bea masuknya bisa 10% atau 25%.

Komentar Kudlow lantas menebar optimisme bahwa peluang tercapainya kesepakatan dagang masih ada.

Apalagi, pernyataan Kudlow seakan disambut oleh kubu China. Presiden Xi menyatakan bahwa China siap untuk lebih membuka diri terhadap perekonomian global, sesuatu yang selama ini menjadi tuntutan Trump.

“China akan terus berupaya untuk membuka diri, bahkan lebih dari apa yang dilakukan sekarang. China akan membuka akses kepada pasar, investasi, dan perlindungan terhadap kekayaan intelektual,” tegas Xi di depan parlemen Negeri Tirai Bambu, dikutip dari Reuters.

Kedua, pernyataan dovish dari Gubernur The Federal Reserve Jerome Powell. Powell menyebut bahwa suku bunga acuan sudah sangat dekat dengan posisi netral, yaitu tidak mendukung pertumbuhan ekonomi maupun mengeremnya. Komentar ini jauh berubah dibandingkan pada awal Oktober, di mana Powell mengatakan suku bunga acuan masih jauh dari netral.

“Suku bunga acuan masih rendah berdasarkan standar historis, dan berada sedikit di bawah rentang estimasi yang netral,” ucap Powell, mengutip Reuters.

Pernyataan Powell diartikan sebagai sinyal bahwa The Fed mungkin akan mengurangi kadar kenaikan suku bunga acuan. Sebagai informasi, The Fed memproyeksikan akan ada sekali lagi kenaikan suku bunga acuan pada tahun ini, yakni pada bulan Desember. Untuk tahun depan, normalisasi diproyeksikan sebanyak 3 kali.

Kala perang dagang dengan China masih berkecamuk, normalisasi yang tak kelewat agresif memang merupakan pilihan terbaik bagi perekonomian AS dan dunia.

Sumber: cnbcindonesia.com

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp WA only