Konversi Devisa Ekspor Sulit Jalan

Tagih Janji Reformasi Pajak
August 9, 2018
Pajak perusahaan tambang turun jadi 25%, penerimaan negara tetap akan naik
August 10, 2018

Jakarta. Usaha pemerintah dan Bank Indonesia (BI) mendorong konversi devisa hasil ekspor (DHE) ke rupiah sepertinya bakal sulit terlaksana. Pasalnya, banyak kendala yang menyebabkan pengusaha lebih suka untuk tetap menyimpan DHE dalam valuta asing, baik di dalam negeri maupun di luar negeri.

Itulah sebabmya, BI mencatat DHE yang masuk ke Indonesia hingga saat ini baru sekitar 80%-81%. Dari jumlah itu, katanya 15,1% yang dikonversi ke rupiah per April 2018.

Ketua Gabungan Pengusaha Eksportir Indonesia (GPEI) Benny Soetrisno mengatakan, ada beberapa alasan tak semua DHE dikonversikan ke rupiah. Pertama, bahan baku produk ekspor yang masih di impor, sehingga valuta asing (Valas) masih diperlukan.

“Karena ada yang produk untuk ekspor itu masih berasal dari impor, masih membutuhkan valas untuk menunjang kestabilan di dalam negeri,” ujar Benny dalam diskusi tentang DHE, Rabu (8/8).

Kedua, pengusaha takut dengan fluktuasi rupiah. Ketiga, perbankan menerapkan harga kurs yang murah. “Kami dikasih kurs bawah (saat menjual), lalu kurs beli tinggi. Temu tengahnya saja, kalau kami dikasih kurs tengah, pasti ada take and give nya,” terang Benny.

Saat jual dollar, pebisnis dikenai kurs bawah, saat beli harus pakai kurs atas.

Keempat, sebagaian besar pengusaha belum memahami fasilitas swap maupun headging (lindung nilai), “Mungkin 10%-15% (anggota Kadin) belum tahu cara hedging,” ujar Benny yang juga sebagai Wakil Ketua Umum Kadin.

Anne Patricia Sutanto, Wakil Presiden Direktur PT Pan Brothers Tbk menambahkan, untuk konversi dollar ke rupiah, pebisnis merasa skemanya kurang menguntungkan. Sebab, ada witholding tax yang diterapkan untuk laba ditahan. “Intinya kami minta tidak dirugikan. Saat kami simpan, jangan ada biaya lagi. Misal kami jual di level 14.450 per dollar AS, kemudian tiga hari lagi rupiahnya plus 20 poin. Itu ada withholding tax,” pasar Anne di tempat sama.

Selain itu, pengusaha sering dibebani biaya swap yang mahal oleh perbankan. “Bisa 7%, terkadang ada yang dapat rate 5% tapi itu perlu usaha yang gigih dengan tim treasury bank,” jelas Anne.

Direktur Departemen Statistik Bank Indonesia (BI) Tutuk Cahyono menjelaskan bahwa hingga saat ini bank sentral tengah mengkaji masukan dari para pelaku usaha terkait DHE. “Insentif tersebut sesuatu yang logis sekali, karena BI dan pemerintah¬† sedang meminta masukan dari para pelaku di lapangan,” terang Tutuk.

BI juga akan memberikan sosialisasi terkait berbagai manfaat dari transaksi tukar valas ke rupiah (swap) dan lindung nilai (hedging) kepada para pengusaha. Pasalnya, banyak pengusaha yang belum memahami fasilitas itu.

Sumber : Harian Kontan

Leave a Reply

Your email address will not be published.

WhatsApp WA only